Detak-Palembang.com JAKARTA – Gaya komunikasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan ini cenderung lebih tegas dan keras, merupakan hal wajar, karena selama ini ia selalu dipojokkan oleh lawan politik dengan berbagai konten hoaks. 

Karena itu, sangat heran dan aneh, jika kubu Prabowo sewot.  Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai aneh bila Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandi, menanggapi model kampanye yang dilakukan oleh Jokowi. Apalagi sampai mengatakan tidak tepat.

“Tepat atau tidak satu model kampanye tidak tergantung pada penilaian lawan politik. Tapi tergantung pada kebutuhan yang ada sebagai strategi yang akan diterapkan,” ujar Ray, kepada media, Senin (4/2/2019).

Ia menegaskan, bila kubu Prabowo-Sandi menilai model kampanye yang dilakukan oleh petahana sebagai tidak tepat, kata dia, justru hal itu menimbulkan pertanyaan. Apakah itu berarti oposisi agak khawatir model kampanye menyerang Jokowi ini sedikit banyak akan berimplikasi terhadap elektabilitas Prabowo.

“Dengan seolah-olah menyebut pak Jokowi yang khawatir tapi sebenarnya yang terjadi justru kekhawatiran mereka. Model kampanye menyerang yang akan dilakukan oleh pak Jokowi akan dapat mengungkap berbagai kelemahan yang mungkin selama ini belum terungkap kapada publik,” kata dia.

Sebut saja soal adanya bantuan tim ahli dari orang asing untuk pemenangan Prabowo. Ini, kata Ray, satu isu yang sudah lama beredar, tetapi akan lebih bernilai politik manakala diungkapkan oleh petahana. Dan disampaikan Jokowi maka sudah tepat.

“Itu salah satu contoh isu yang boleh jadi akan dapat mengurai berbagai kelemahan dari penantang petahana,” tegas Ray.

Terlebih, kata dia, setelah hampir 4 bulan bertahan terus, dan efektif membuat suara tidak merosot, maka selanjutnya dalam rangka menambah daya tarik elektabilitas pola yang dipergunakan adalah kampanye menyerang.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute Karyono Wibowo, menilai, perubahan gaya komunikasi Jokowi, yang lebih tegas, menyerang, ingin menunjukkan bahwa ia pun mampu melakukan perlawanan.

Hal itu, sangat wajar, karena sejak Jokowi belum jadi presiden, lalu sampai dilantik, bahkan hingga 4 tahun ini sebagai Presiden, serangan yang dilancarkan secara bertubi-tubi dari segala penjuru, dengan hoaks dan kebencian.

Dari tuduhan kriminilasi ulama, PKI, tenaga asing, sampai tidak bela ulama. Seragan dari kebijakan sampai personal.  Maka, komunikasi perlawanan yang dilakukan oleh Jokowi, kata dia, merupakan hal yang wajar.

“Di tengah hoaks, sikap lembut, datar, egaliter, tidak tepat lagi, malah bisa terpojok,” tegas dia.

Meski begitu, ia menyarankan agar Jokowi untuk juga berhati-hati dan memilah pada isu apa harus dilawan secara langsung atau cukup oleh tim kampanye, hingga para menteri.

“Pak Jokowi harus dilihat dulu, serangan mana yang harus direspon, apa cukup menterinya. Karena kalau semua direspons oleh Jokowi terjebak oleh lawan. Ini juga harus diperhatikan,” kata dia.