Detak-Palembang.com PALEMBANG – Focus Group Dicussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Sumatera Selatan (Sumsel) yang mendapat dukungan berbagai pihak kali ini agak berbeda dari yang sebelumnnya. Perbedaannya pada peserta meninjau langsung ke lapangan sebelum berdiskusi.

“Akan sulit berdiskusi tanpa melihat langsung ke lapangan. Kemarin kami langsung ke lapangan melihat bentang lahan (Landskape),” jelas Prof Robiyanto H.Susanto, Tim Ahli (Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumsel saat jumpa wartawan di Hotel Aston, Jumat (24/02).

Lanjut Robi, peninjauan lapangan dimulai dari menyelusuri Sungai Musi masuk ke Sungai Padang maka ia menemui masyarakat lokal yang tinggal sejak puluhan tahun lalu.

“Kami melihat masyarakat disana bertani di persawahan, juga ada tanaman sawit dan karet hingga berhenti di Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang pada tahun 2015 terbakar hebat,” ungkapnya.

Diutarakannya, kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 lalu mencapai 700 ribu hektar dari jumlah tersebut terdapat 400 ribu hektar berada di lahan gambut. Kebakaran hutan dan lahan masih intensif dilakukan masyarakat karena membuka lahan pertanian dengan cara tebas dan bakar.

“Kami melanjutkan perjalanan menuju perkebunan sawit Sriwijaya. Disitu kami saksikan ada penahanan penahanan air, penahanan air disini adalah membuat saluran air tapi tidak dialirkan ke sungai sehingga menyebabkan keasaman air yang tinggi,” katanya.

Dipaparkannya, penahanan air yang menyebabkan keasaman tinggi juga menimbulkan matinya makhluk hidup. Oleh karenanya, dalam merestorasi lahan gambut pihaknya menerapkan pendekatan ‘3 R’ yakni Restorasi Hidrologi, Revegetasi, Revitalisasi Penghidupan Masyarakat.

Revitalisasi Hidrologi selain menurunkan krasaman air juga menjaga ketersediaan air sehingga gambut tetap basah dan menghindari kebakaran.

“Revilaisasi Hidrologi menjadi tanggung jawab dari pemilik lahan. Dengan revitalisasi padang sugihan maka tumbuhan akan tumbih, gajah akan berkembang biak akses jalan untuk keluar masuk akan tebatas. FGD ini untuk mempertajam dan memperjelas bentang lahan untuk merestorasinya,” tutupnya.