pbiDetak-Palembang.com JAKARTA – Ribuan orang berkumpul di Bundaran Patung Arjuna Wiwaha dan Tugu Tani, Jakarta. Mereka akan mengikuti Parade Bhinneka Tunggal Ika. Mereka kompak mengenakan kaus bernuansa merah dan putih. Sebagian besar kaus yang mereka kenakan bertulisan “Relawan Nusantara”, Sabtu (19/11).

Tujuan aksi damai ini adalah merawat Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan Indonesia serta mempertahankan pemerintahan yang terpilih secara konstitusional dan menyerukan penegakan hukum yang tidak bisa diintervensi pihak mana pun.

Tak Diizinkan ke HI

Salah satu penyelenggara Parade Bhinneka Tunggal Ika, Budiman Sujatmiko, menjelaskan peserta parade terkendala berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia untuk menyampaikan aspirasi karena tidak mendapatkan izin dari kepolisian.

“Ada beberapa (peserta) sempat tertahan dan sudah menunggu di sepanjang jalan antara Patung Kuda sampai Bundaran HI, tapi pihak kepolisian tidak mengizinkan akhirnya kita mengubah rute ke Patung Tugu Tani,” kata Budiman saat dihubungi Antara di Jakarta, Sabtu malam.

Budiman mengatakan pihak kepolisian tidak mengizinkan karena ada peraturan yang tidak memperbolehkan massa berkumpul di Bundaran HI. Oleh sebab itu, jumlah peserta yang mengikuti parade tidak mencapai dari yang sebelumnya ditargetkan, yakni sebanyak 97 ribu.

“Perkiraan ada 35 ribu sampai 40 ribu orang. Massa tersebar di beberapa titik dan sebagian besar sudah menunggu di Bundaran HI karena memang sesuai rencana di situ,” ujarnya.

Ribuan massa berkumpul di sekitar Bundaran Patung Arjuna Wiwaha dengan mengenakan kaus putih dan baju adat untuk menyemarakkan parade.

Kegiatan yang menampilkan keberagaman suku bangsa, agama serta ras di Indonesia ini dimulai sejak pukul 08.00 sampai 12.00 WIB dengan bermula di Bundaran Patung Arjuna Wiwaha kemudian bergerak ke Bundaran Tugu Tani.

Sebelumnya, panitia menargetkan ada 97 ribu massa yang berkumpul, mulai dari masyarakat sipil, paguyuban dan organisasi.

“Kemarin komitmen dari berbagai elemen yang mau datang, totalnya ada 97 ribu massa, belum termasuk yang datang pribadi dengan sendirinya,” kata salah satu penyelenggara, Hasan Nasbi.

Sasaran yang dituju dalam aksi damai ini adalah merawat Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinnekaan Indonesia serta mempertahankan pemerintahan yang terpilih secara konstitusional dan menyerukan penegakan hukum yang tidak bisa diintervensi pihak mana pun.

Uang Transportasi

Budiman Sujatmiko menjelaskan bahwa panitia tidak menyediakan uang transportasi kepada peserta. “Kita mengundang berbagai macam organisasi dan kelompok. Itu kebijakan masing-masing kelompok, tapi jelas dari panitia tidak memberikan (uang). Masing-masing organisasi ada yang punya kas, tetapi kita tidak mengurus internal mereka,” kata Budiman saat dihubungi Antara di Jakarta, Sabtu malam.

Budiman mengatakan massa yang datang dari berbagai elemen, mulai dari organisasi, kumpulan petani, dan masyarakat sipil datang atas keinginan sendiri.

Ada pun organisasi yang menyediakan uang transportasi, menurut dia, itu merupakan kebijakan masing-masing kelompok, namun panitia menegaskan tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apa pun.

Ia juga menjelaskan bahwa penyelenggaraan Parade Bhinneka Tunggal Ika tidak berkaitan dengan aksi damai 4 November karena kegiatan tersebut hanya untuk merayakan perbedaan sebagai kekuatan NKRI.

“Tidak ada kaitannya dengan 4 November. Kita ingin merayakan perbedaan sebagai kekuatan bangsa, sesuatu yang sah dan alami oleh sesama manusia. Kita berharap jangan jadikan perbedaan agama dan suku sebagai sesuatu yang harus dibesar-besarkan. Demokrasi tidak ada kaitannya dengan suku dan agama,” ujar Budiman.

Ia menambahkan penyelenggara akan mengadakan kegiatan serupa bertajuk kebudayaan dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kita yang jelas akan evaluasi dulu, tetapi ini bukan (kegiatan) yang terakhir, belum bisa dipastikan waktunya, tetapi berkaitan dengan kebudayaan,” ungkapnya.

Puji Kerukunan di Indonesia

Tokoh umat Buddha internasional Passang Rinpoche memuji keharmonisan dan kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia.

Pujian itu disampaikannya ketika memberikan “dhamma talk” atau wejangan dalam doa bersama Umat Buddha Nusantara di lapangan eks Bandara Polonia Medan, Sabtu malam.

Menurut Passang Rinpoche, bentuk kerukunan itu terlihat dari banyaknya umat dari agama lain yang bersedia hadir dan memeriahkan kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

Bahkan, ia mengaku kagum karena kegiatan tersebut juga dibuka Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, dan dihadiri tokoh-tokoh ternama seperti Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi, sejumlah anggota DPR RI, tokoh masyarakat, dan tokoh dari berbagai agama.

“Itu merupakan gambaran bahwa disini (Indonesia) umat beragama saling menghormati,” katanya melalui penerjemah bahasa.

Ia juga memuji kekompakan umat Buddha di Indonesia yang hadir hingga ribuan orang untuk mengikuti doa bersama itu meski berasal dari berbagai aliran.

Kekompakan dan kerukunan beragama tersebut menyebabkan umat Buddha dari berbagai daerah, bahkan dari Tiongkok, Malaysia, dan Singapura untuk hadir guna meramaikan doa bersama.

“Ini bukti kegiatan ini memiliki makna yang sangat besar,” katanya.

Kegiatan besar seperti doa bersama tersebut mungkin dianggap seperti sebuah pesta jika dilihat aspek keramaian dan kemeriahan acara.

Namun substansi dari kegiatan itu adalah pesan agar antaragama perlu saling menghargai dan saling mendoakan agar kehidupan lebih sejahtera.

“Kalau bisa hidup saling menghargai, hidup akan menjadi aman,” ujar Passang Rinpoche.

Usai dhamma talk tersebut, dilakukan doa bersama yang dipimpin sejumlah bikhu dan diikuti lebih dari 10 ribu umat Buddha.

Ketua Panitia Doa Bersama Umat Buddha Nusantara Sutrisno mengatakan, isi doa tersebut berkaitan dengan kemajuam bangsa Indonesia agar terhindari dari segala bencana sesuai tema kegiatan “Untuk Negeriku Indonesia”.