Detak-Palembang.com KEDIRI – Jelang puncak Tahun Baru Imlek, Babinsa Pakelan, Serda Abu Nur Arifin mendatangi tempat ibadah yang berdampingan dengan Sungai Berantas. Tempat ini tidak hanya sebagai tempat ibadah umat Konghuchu, tetapi sudah menjadi destinasi wisata religi. Terlebih, status bangunan yang sudah berusia lebih satu abad ini, telah menyandang status cagar budaya.

Klenteng Tjoe Hwie Kiong, berlokasi di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, dan keberadaan tempat ibadah ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari Makoramil 01/Kota atau sekitar 200 meter dari Jembatan Brawijaya.

Pratikno Sutikno, Ketua Yayasan Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, dengan terbuka menyambut kedatangan Serda Abu dan kedatangannya ini bertujuan untuk mengetahui apa itu Tahun Baru Imlek. selasa (29/1/2019)

Dibawah Patung Makco Thian Shang Sen Mu, Pratikno menjelaskan gambaran singkat tentang Tahun Baru Imlek. Patung itu sendiri berwarna abu-abu dan menggambarkan sosok seorang dewa yang bermahkota dan mengenakan jubah. Patung Makco Thian Shang Sen Mu tersebut, berada di sebelah timur kelenteng dan menghadap ke arah Sungai Brantas yang berada di sebelah barat.

“Tahun ini 2019, tahun Imleknya 2570. Menurut agama Konghuchu, itu Imlek diambil dari tahun kelahiran Nabi Konghuchu. Jadi, ditetapkan tahun 551 SM, patokan dasarnya dari situ, sehingga ketemu tahun 2570,” kata Pratikno.

Penanggalan kalender Gregorian, tidak sama dengan penanggalan kalender Imlek, dan setiap tahunnya, Imlek jatuh pada tanggal maupun hari yang berbeda. Umumnya, Imlek jatuh pada bulan Februari, menurut penanggalan kalender Gregorian.

“Untuk umat Konghuchu, Imlek diakhiri membawa hal yang baru untuk kita laksanakan, untuk kita perbaiki. Yang tahun kemarinnya kurang bagus, hal-hal yang jelek kita tinggalkan, kita perbaiki dengan membuat hal-hal yang baru untuk menjadi lebih baik,” ungkap Pratikno.

Menurut elemen perbintangan, ada 5 elemen, yaitu kayu, api, bumi, logam dan air. Elemen tersebut tersebut, terus berputar atau berganti setiap dua tahun sekali. Sedangkan Yin dan Yang, berputar atau berganti setiap tahunnya. Hal inilah yang menyebabkan siklus yang terulang berlaku setiap 60 tahun, dalam artian di tahun 2019 ini, unsurnya sama dengan tahun 1959 lalu.

Saat dimintai penjelasan seputar rencana puncak tahun baru Imlek, Pratikno mengaku sudah membuatnya, dan ia berencana mengundang rekan-rekannya sesama pengurus FKUB (Forum Kerukunan Antar Agama) untuk datang, sekaligus Forpimda Kediri. Rencana tersebut dilakukan, guna membuktikan kerukunan antar umat beragama di Kediri ini benar-benar terwujud.

FKUB sendiri, dimata warga Kediri, dianggap sebagai jembatan lintas agama, dan orang-orang yang ada di dalam kepengurusan FKUB ini, selalu aktif menghubungkan kemajemukan dari berbagai keberagaman.