Detak-Palembang.com PALEMBANG – Kedua pedagang kaki lima di Jakabaring yang sempat bentrok dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palembang, akhirnya menyatakan bersalah dan minta maaf di kantor Satpol PP yang terletak di jalan MP Mangkunegara, Kamis (06/09).

Sempat menunggu beberapa jam, Ria dan Reni kedua pedang yang bentrok dengan POL PP tiba sekitar pukul 15.00 wib. Sebagian awak media juga sudah pulang karena sudah  menunggu sejak pukul 12 siang.

Didampingi suami dan keluarga, kedua pedagang diminta menyampaikan langsung dihadapan awak media, terkait permohonan maaf atas bentrok yang sempat membuat dua anggota Satpol PP mengalami luka-luka.

“Nama saya Reni, memang benar saya melempar box es ke wajah anggota Pol PP. Sudah itu kami merasa bersalah dan sudah meminta maaf dengan Pol PP,” ungkap Reni salah satu pedagang  dengan suara bergetar didampingi suami dan jajaran Satpol PP Kota Palembang.

Sementara itu, suami Reni, Rudi diminta Satpol PP  menjelaskan kronologis  kejadian. Suami Reni ini pun mengakui kesalahan istrinya kepada awak media.

“Pada saat kejadian saya ada disitu, namun kalau salah ya memang salah. Masalah pemukulan, bukan ditangkap tapi kami diamankan karena istri saya bersalah, telah melempar box es itu ke arah wajah Pol PP,” terangnya.

Ditempat yang sama, pedagang kedua bernama Ria mengaku bersalah telah memukul salah satu anggota Satpol PP dengan pemecah es dan ria telah meminta maaf kepada Pol PP Kota Palembang atas kejadian tersebut.

“Sebelumnya saya minta maaf dulu kepada anggota Pol PP,  karena saya telah mencetok (memukul) kepala Agus, salah satu anggota Pol PP. Itu dikarenakan saya tidak sengaja dan saya sudah meminta maaf kepada para anggota Pol PP, sudah sekian,” disampainya dengan muka tegang.

Namun, saat disinggung terkait kronologis kejadian hingga menyebabkan kisruh dan menimbulkan korban jiwa. Kedua pedagang kebingungan dan menyerahkan sepenuhnya kepada pengacara Satpol PP Kota Palembang.

“Kami serahkan semuanya kepada pengacara Pol PP, sekian terimakasih,” tutupnya dengan nada takut.

Dilanjutkan Wendy (suami Ria), kejadian pemukulan yang dilakukan istrinya hanyalah kesalahpahaman. Karena, pada saat itu, sang istri kaget dengan kedatangan anggota Satpol PP yang melakukan penertiban.

“Kami minta maaf karena ini adalah kesalahpahaman, dan kami minta maaf, karena ini adalah murni kesalahan kami,” tuturnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Satpol PP Kota Palembang, Alex Fernandus melalui Kepala Bidang (Kabid) Operasional Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibum dan Tranmas), HS Hendra menyampaikan, hari ini menjadi pengakuan dari para pedagang dan telah mengaku salah dan sudah meminta maaf kepada jajaran Satpol PP Kota Palembang.

“Karena Kepala Satpol PP tidak bisa hadir karena harus menemani istri berobat, jadi saya mewakili selaku Kabid Tibum dan Transmas bersama Kasi Operasional dan Kasi Pengawalan. Dan Alhamdulillah sudah kita dengar pengakuan-pengakuan dari para pedagang, atas kejadian pada hari Kamis,” ungkapnya.

Hendra mengaku, melalui permintaan maaf yang disampaikan, maka Satpol PP Kota Palembang juga tidak akan mempersoalkan lagi kejadian yang menyebabkan luka pada kedua anggotanya.

“Sebagai umat beragama, jika ada orang yang meminta maaf maka kita wajib memaafkan,” ujarnya.

Meski telah dilakukan permintaan maaf oleh kedua pedagang, Hendra mengatakan jika proses tetap ada, melalui surat perjanjian antara kedua pihak.

“Dengan adanya perdamaian ini, maka bisa dikatakan tidak berlanjut. Tapi, ada perdamaian antara kedua belah pihak. Artinya bukan berarti perdamaian ini selesai, karena ada kesepakatan dan dari pihak pedagang juga bersedia untuk bertanggung jawab sampai korban sembuh,” ulasnya.

Hendra menerangkan, harus diketahui dua orang anggota Satpol PP yang mengalami luka serius, yakni satu bernama Hendra harus mendapat 18 jahitan dan satunya bernama Agus yang mendapat 4 luka jahitan akibat luka serius yang dialami.

“Kedepan saya berharap tidak ada kejadian seperti ini lagi dan para pedagang agar jangan lagi berdagang di badan jalan dan trotoar karena itu selalu dipantau oleh Satpol PP  karena itu sudah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 43 tahun 2002. Jadi kami berharap pedagang dapat berdagang di tempatnya,” tutup Hendra.