hipmi1Detak-Palembang.com PALEMBANG – Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sumatera Selatan (BPD HIPMI Sumsel) menyelenggarakan, Konsultasi dan Workshop Tax Amnesty dengan tema ‘Pendapingan Penyelesaian Tax Amnesty Bagi Pengusaha Melalui HIPMI’ di Hotel Princess Palembang, Kamis (22/09).

Konsultasi dan Tax Amnesty  yang dihadiri oleh Ketua HIPMI Tax Center Ajib Hamdani, dan pengusaha muda dari Kabupaten/Kota se-Sumsel.

Kepala Kantor Wilayah Pajak Sumsel Ismiransyah mengatakan,  Alhamdulillah Tax Amnesty Sumsel sudah tembus 350 miliar, juga sudah ada repatriasi.

“Saya berterimakasih kepada wajib pajak yang sudah mengikuti program Tax Amnesty. Secara nasional target Tax Amnesty Rp165 trilyun, untuk Sumsel saya targetkan sendiri Rp600 miliar itu masih termasuk kecil, tahap pertama saja sudah masuk 200 miliar,” jelasnya.

hipmi2

Dikatakannya program Tax Amnesty sudah banyak di sosialisasikan dan saat ini wajib pajak yang sudah mengikuti Tax Amnesty sebanyak 2965.

Semetara itu Ketua BPD Sumsel, Yudha Pratomo mengungkapkan, HIPMI adalah kumpulan dari pengusaha muda yang usia dibawah 40 tahun, tapi kebanyakan bisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“Kita ini bukan pembisnis kelas kakap, sebetulnya mungkin kita ini belum menjadi prioritas, karena kita memang pengusaha baru dan ternyata di Undang-Undang (UU) perpajakan itu ada kemudahan untuk pengusaha pemula, jadi dua tahun pertama akan dibebaskan pajaknya,” jelasnya.

Lanjutnya, ia sangat senang dengan itu, petugas pajak dengan pengusaha itu harus diperbaiki hubungannya, jangan sampai hubungannya itu seperti selama ini ‘kucing sama tikus’. Lebih atas dasar saling penegertian dan persahabatan, jadi kalau biasanya dihimbau atau diajak teman pengusaha sendiri yang nyaman.

“Pasti pengusaha -pengusaha ini mau atas dasar bahwa negara itu sedang membutuhkan pembangunan infrastruktur.

Kalau Kami di HIPMI mencentak pengusaha baru, jutru peran HIPMI besar dalam peran perekonomian negara seperti saya katakan tadi,
sebuah negara dikatakan memiliki perekonomian baik kalau pengusahannya minimal 2% dari total populasi penduduknya.

“Sekarang posisi di Indonesia ini baru 1% lebih sedikit, sehingga kita harus mencetak sebanyak banyaknya pengusaha, itulah program HIPMI mencetak pengusaha muda, maka disini ada HIPMI peguruan tinggi dan lain-lain,” ungkapnya.

Ditambahkannya, dalam hal hubungan pajak, pengusaha ini kalau mereka baru berusaha sudah berhadapan atau sulit karena pajak, maka tidak mau menjadi pengusaha dengan itu tidak lahir pengusaha baru. Ia berharap hubungan petugas pajak dan pengusaha menjadi nyaman dan sama-sama senang, pengusaha menjadi banyak dan negara mendapat dana.

“Kita harus membangun komunikasi dan persahabatan dengan petugas pajak. Untuk anggota saya belum mendapat data yang sudah mengikuti Tax Amnesty karena itu dianggap ranah pribadi dan tidak melapor kepada organisasi,” tutupnya.