Detak-Palembang.com – Saat hidup terpuruklah kita merasa disaat itu kekuatan dari Allah yang paling dirindukan. Dikala semua ikhtiar lahir telah dilakukan dan dunia seakan tak berpihak, jalan berikutnya adalah ikhtiar mengharap belas kasihan Sang Maha Penyayang. Dengan cara apa? Semakin mendekatkan batin dengan memuji semua kebesaran Dia dan memohon pengampunan dari segala dosa. Sematkan pula di ujung kalimat, doa apa yang ikut segera dikabulkan.

Referensi pihak ketiga

Itu sepertinya terdengar biasa. Hal yang luar biasanya adalah, saat ikhtiar lahir dan batin seakan tertolak atau mungkin tertunda untuk waktu yang kita benar-benar tak tahu kapan akan terkabul. Yang dirasa ialah sakit hati, perih, terpukul, gundah bahkan hampir putus asa. Lantas hal apa yang harus tetap dilakukan agar dapat bertahan hidup dengan iman yang tak goyah? SABAR.. ya, jawabannya adalah SABAR.

Sesederhana itu kah dengan kata SABAR?

Tidak, dengan keadaan batin yang telah tercabik-cabik kata SABAR seperti cambuk yang semakin menyakitkan batin. Andai saja tak kuat iman, mungkin dosa lebih besar bisa dilakukan. Namun.. ingatlah, Allah tak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan umat-Nya. Yakinkan diri sendiri, pasti dan selalu pasti akan ada jalan keluarnya. Inti dari penyelesaian masalah putus asa ialah tetap kuasai hati dengan tenang, berusaha sekuat mungkin agar selalu berpikir positif.

Hati tenang dan berpikir positif seperti bagaimanakah?

Coba renungkan apa yang sedang dilewati selama masa ikhtiar ini, adakah hal baik yang kita kerjakan untuk sesama manusia? Atau sempatkah kita bermamfaat untuk orang lain? Jika iya, beruntungnya kita. Saat terpuruk pun amal kita tak putus ternyata, ada hal baik yang bisa kita harapkan untuk Allah bisa balas dengan kebaikan pula. Eiits.. ingat, hanya pada-Nya lah tempat berharap balasan. Jangan sekali-kali kita gantungkan harapan terhadap sesama makhluk, karena hanya sakit hati yang mungkin didapatkan.

Referensi pihak ketiga

Terlepas apa kita hanya berbuat baik karena terdesak keadaan, atau memang kita dengan tulus mau mengerjakan amal baik itu. Beda memang antara yang baik karena terpaksa, sama baik disertai tulus. Namun apalah itu, biar Allah sendiri yang menilai bagaimana pahala kita di mata-Nya. Yang perlu digaris bawahi ialah, saat terpuruk kita dipaksa untuk berbuat baik itu LUAR BIASA. Kenapa luar biasa? Karena jika kita mau membuka hati dan pikiran kita, kejadian seperti itu ternyata cara Allah “memaksa” kita untuk memperbanyak pahala lewat sedekah. Kok sedekah? Ya.. karena mungkin kalau lewat materi kita sedang tak punya, sedekah lewat tenaga atau bantu pikiran juga bisa berpahala.

Saat batin sedang tak karuan, tenaga hampir habis namun Allah tetap saja “memaksa” untuk berbuat baik kepada orang lain maka berpikir positiflah, bahwa mungkin inilah jalan ikhtiar sebenarnya. Mendulang pahala saat jiwa dan raga “diseret” menuju jalan Ridho-Nya. Mengapa harus diseret sama Allah? Karena mungkin saja jika tidak dengan cara itu, mata dan hati kita tak pernah benar-benar melihat itu sebagai suatu kebaikan, atau kita yang terlalu malas untuk bisa peduli sesama. Selama iman kita teguh, insya Allah kasih sayang Allah tak akan putus walau caranya diluar dari dugaan kita. Cara “memaksa” dan “menyeret” dalam kebaikan itu lah salah satu bentuk kasih sayangnya, agar kita selalu jadi hamba yang berbekal pahala untuk dimasukan ke surga-Nya kelak.

Tugas selanjutnya ialah, ayo perbaiki dan baguskan ibadah kita. Yakinkan dalam hati bahwa sesuatu yang kita tanam baik, akan berbuah baik pula. Berdoalah seyakin-yakinnya masa suram ini akan segera berlalu, karena Doa + Yakin = Mustajab.