Detak-Pembang.Com PALEMBANG – Adanya perbedaan data impor jagung yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada saat debat Calon Presiden Minggu 16 Februari 2019 lalu dengan data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), maka Kepala BPS, Suhariyanto akan menelusuri perbedaan itu.

Calon Presiden 01, Joko Widodo menyebutkan data impor jagung sebanyak 180.000 ton berasal dari data yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, sementara data yang dimiliki BPS sebesar 737.220 ton.

“Data ekspor-impor secara rutin kami rilis tanggal 15 setiap bulannya. Data neraca perdagangan kami himpun dari berbagai sumber seperti Bea Cukai, BI dan Kementerian Keuangan sesuai MoU yang kami jalin dengan ketiga instansi tersebut,” ungkapnya saat menghadiri Rapim BPS Tingkat  Provinsi Se-Indonesia di Palembang, Selasa (19/02).

Ia melanjutkan, data yang dimiliki oleh instansinya mencakup seluruh jenis impor jagung, baik untuk pangan maupun untuk pakan ternak. Ia menyampaikan kemungkinan data impor 180.000 ton jagung yang disampaikan Joko Widodo untuk pakan ternak saja.

“Pastinya saya tidak tahu. Kami akan konfirmasi dengan Kementerian Pertanian. Seharusnya data milik Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dengan data kami sama,” katanya.

Suhariyanto menolak memberikan komentar mengenai perbedaan data impor jagung tersebut dan lebih dahulu kroscek dengan kementerian terkait. “Saya harus telusuri dulu yang dimaksud 180.000 ton itu maksudnya apa dan sumbernya dari mana. Bisa saja kita mengatakan hal yang sama tapi konsep dan definisinya berbeda,” tutupnya.