Detak-Palembang.com JAKARTA – Pasca gempa besar yang melanda Lombok pada Minggu (29/7/2018) pagi, gempa susulan masih terus terjadi hingga kini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Selasa (31/7/2018) pukul 10.00 WIB, gempa susulan dengan intensitas lebih rendah terjadi sebanyak 346 kali di Lombok, NTB.

“Kami mencatat hingga siang hari ini gempa susulan sudah terjadi sebanyak 346 kali, Gempa susulan terjadi dalam kisaran kedalaman dangkal yaitu 5 sampai 10 kilometer,” ucap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (31/7/2018).

Sebelumnya tercatat terjadi 276 kali gempa susulan hingga Senin (30/7/2018) pukul 08.00 WIB.

Gempa berkekuatan 6,4 SR dengan intensitas yang dirasakan lebih besar dari VI MMI terjadi pada Minggu (29/7/2018) pukul 05:47:39 WIB.

Adapun kedalaman gempa 10 kilometer.

Gempa bumi terjadi akibat aktivitas Sesar Naik Flores dan dipicu deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik.

Dari informasi yang dihimpun BNPB, hingga saat ini total korban meninggal berjumlah 17 orang.

Jumlah ini termasuk korban yang meninggal di Gunung Rinjani, Lombok.

“Jumlah orang luka luka 401 jiwa, pengungsi sampai saat ini 10.062 jiwa yang tersebar di 13 titik pengungsian,” kata Sutopo.

Sementara 5.448 rumah rusak, 15 unit fasilitas pendidikan, 5 unit fasilitas kesehatan, 55 unit fasilitas peribadatan, 37 unit kios dan satu jembatan rusak.

Masyarakat Tidur di Tenda

Pasca gempa, masyarakat Lombok masih bertahan di tenda-tenda yang dibangun untuk menghindari gempa-gempa susulan yang terus terjadi. Mereka harus tidur berjejer di bawah tenda terpal di halaman rumah tanpa menghiraukan dinginnya udara malam yang mencapai 15 derajat Celsius.

Hampir seluruh halaman rumah warga desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani itu dipenuhi tenda. Mereka memilih tidur di luar karena masih trauma dengan guncangan gempa dahsyat yang merobohkan tembok rumah.

Bahkan, ada beberapa kepala keluarga yang memilih membangun tenda darurat secara mandiri di tengah sawahnya. Pasalnya, kondisi retakan tembok rumahnya tergolong parah, sehingga sewaktu-waktu bisa roboh.

Apalagi, gempa susulan masih sering melanda wilayah Sembalun dan sekitarnya. Kejadian tersebut semakin menambah rasa khawatir warga jika tidur di dalam bangunan yang sudah dalam kondisi tidak layak ditempati.

“Dingin pada malam hari sangat dirasakan, meskipun sudah pakai selimut tebal. Tapi mau bagaimana lagi. Lebih baik menyelamatkan diri sebelum terjadi apa-apa,” tutur Risnun (40), warga Desa Sembalun Bumbung.

Bangunan dalam kondisi seperti itu tidak memungkinkan dari sisi keselamatan untuk ditempati. Akhirnya, hamparan sawah menjadi tempat membangun tenda darurat untuk melewatkan malam bersama seluruh anggota keluarga pascagempa bumi besar.