Detak-Palembang.com AMBON – Tugas pokok Tentara Nasional Indonesia adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Disaat kondisi negara dalam keadaan aman dan tidak dalam ancaman perang, maka TNI akan berperan membantu masyarakat dalam berbagai  bidang kehidupan. Salah satunya di bidang pertanian dimana beberapa waktu lalu ada temuan formula oleh anggota TNI untuk membantu penyuburan tanah sehingga dapat digunakan sebagai lahan pertanian yang cukup produktif. Temuan itu berupa formula BIOS 44 – Bio Struktur (Dekomposer Gambut) yaitu agen hayati pemercepat pembusukan material organik lahan gambut.

Untuk mempersiapkan anggota TNI di wilayah Kodam XVI/Pattimura sebagai agen atau pioner BIOS 44 maka digelar sosialisasi dan pelatihan selama tiga hari (10-12 Januari 2018) bertempat di Kompleks Makorem 151/Binaiya Ambon Maluku. Dengan narasumber disampaikan langsung oleh Ketua Tim Komandan Korem 044/Gapo Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo, S.IP.

Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Suko Pranoto mengatakan “Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Bios 44 adalah Bio Struktur (Dekomposer Gambut) merupakan agen hayati yang dapat mempercepat proses pembusukan material organik lahan gambut. Selain mengatasi kebakaran lahan gambut juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan dan juga dapat menetralisasi limbah serta menyuburkan lahan bekas tambang,” jelasnya.

Lanjutnya, mencermati pentingnya kegiatan ini, maka Pranoto sangat menyambut baik kedatangan Tim Sosialisasi yang akan memberikan Sosialisasi BIOS 44 kepada personel Kodam XVI/Pattimura dan Masyarakat.  “Saya berharap, kegiatan sosialisasi ini dapat berjalan dengan tertib dan lancar serta mencapai sasaran yang diinginkan. Karena itu, saya minta agar semua peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik,” tukasnya.

Sosialisasi ini selain dihadiri personel Kodam XVI/Pattimura juga dihadiri kalangan sipil dari Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas ESDM, Dinas Sosial dari Provinsi Maluku, Kota Ambon dan Kabupaten Buru serta kalangan akademisi dari Universitas Pattimura Ambon, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Universitas Darrusalam Ambon, serta Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan (STAKPn) Ambon dan FKPPI.

Ketua tim sosialisasi program BIOS 44 Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo saat paparan materi menjelaskan BIOS 44 – Bio Struktur (Dekomposer Gambut) merupakan agen hayati pemercepat pembusukan material organik lahan gambut. “BIOS 44 merupakan gabungan simbiosis mutualisme antar mikroorganisme dan berfungsi untuk mempercepat terjadinya pembusuk materiai organik lahan gambut. Dan juga sekaligus melembabkan serta menutup rongga gambut dengan hifa atau sejenis lendir yang dihasilkan mikroorganisme yang terkandung dalam larutan yang sudah diformulasi,” paparnya.

Dijelaskan, BIOS 44 merupakan gabungan mikroorganisme yang mampu memproduksi endospore yang tahan terhadap terhadap lingkungan seperti panas, asam, dan garam, dapat berada dalam lingkungan ekstrim dalam jangka waktu yang lama. Endospore adalah zat yang dibentuk pada saat mikroorganisme stress terhadap asupan makanan, memungkinkan organisme BIOS 44 untuk terus berada di dalam lingkungan sampai kondisi menjadi baik. “Inilah kelebihan utama BIOS 44 yang tidak dimiliki oleh banyak formulasi mikroorganisme pada umumnya,” jelas Kunto yang saat ini menjabat sebagai Danrem 044 Gapo Kodam II/Sriwijaya.

Hasil penelitian ungkapnya, menunjukkan mikroorganisme yang terkandung dalam BIOS 44 membentuk proses biodegradasi dengan perantara enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme lain pendukung BIOS 44, yang bersifat biokatalisator dan menghasilkan zat kapur yaitu kalsium karbonat (CaCO3) yang membentuk ikatan kimia antara butiran tanah sehingga mampu meningkatkan pH tanah hingga menjadi normal. Pasca pemberian BIOS pada lahan gambut dilanjutkan kemudian dengan penebaran eceng gondok sebagai agen pupuk hijau serta pereduksi oksigen dari lahan gambut yang selama ini menjadi pendukung terjadinya kebakaran lahan. Setelah oksigen berkurang maka dimasa yang akan datang api tidak akan menjalar meluas (merambat) seperti yang terjadi sebelumnya. Disamping itu eceng gondok yang telah mati akibat kemarau akan berfungsi menjadi pupuk atau penyedia unsur hara pada lahan gambut, “Setelah itu mari kita bertanam kedelai, rakyat makmur, berdaulat pangan,” tukasnya.

Cairan BIOS 44 yang sudah ditebar, selama tiga bulan setelah dilakukan penyiraman akan membuat lahan menjadi subur dan bisa ditanami dengan berbagai tanaman, dan saat kemarau lahan gambut telah terkunci dan tidak mudah terbakar.

Lebih lanjut Danrem 044/Gapo membeberkan beberapa lokasi yang telah dilakukan sosialisasi dan praktek penggunaan BIOS 44 antara lain membantu normalisasi air sungai Citarum pada program Citarum Harum yang merupakan program Pangdam III/Siliwangi, kemudian dilakukan juga di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan wilayah Kodam VII/Wirabuana membantu meningkatkan kesuburan lahan perkebunan rakyat serta di bidang peternakan. Selanjutnya di Aceh untuk perkebunan. Di beberapa kawasan di Jawa Barat serta Jawa Tengah juga membantu peningkatan kesuburan lahan pertanian rakyat serta peternakan. Di Pulau Bangka, mereka juga berupaya mengembalikan kesuburan tanah di bekas areal tambang timah.

“Hasilnya cukup memuaskan sehingga program penggunaan BIOS 44 ini akan terus kita galakkan di tengah masyarakat sebagai salah satu sumbangsih TNI pada aspek sosial kemasyarakatan,” pungkasnya.