Ilustrasi buah durian (IST)

DETAK-PALEMBANG.COM, PALEMBANG – Permintaan membludak dari para pecinta buah durian khas Sumatera Selatan (Sumsel), dilirik oleh warga Desa Lebung Itam, Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel.

Mereka melihat peluang bisnis bibit durian, yang diprediksi laris manis di pasaran. Terutama bagi para petani, yang ingin mengembangkan bisnis buah durian Sumsel, yang bisa dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia.

Peluang bisnis ini pun rencana akan digarap oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Lebung Itam, yang sudah didirikan di tahun 2017.

Diungkapkan Manis Eka Sari (28), Ketua Bumdes Lebung Itam mengatakan, alasan dia bersama tim Bumdes Lebung Itam melirik bisnis bibit durian, karena sudah banyak peminat dan permintaan yang tinggi.

“Untuk bisnis bibit durian, memang sudah dicoba dan berhasil untuk pemasarannya. Makanya kita melihat peluang dan menjual bibit durian ini. Kita juga sudah ada pangsa pasarnya,” ucapnya, saat mengikuti Pelatihan dan Pendampingan – Peningkatan Kapasitas Badan Usaha Milik Desa dan Unit Usaha Masyarakat di Area Gambut di Provinsi Sumsel, di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (30/8/2022).

Selain bibit durian, Bumdes Lebung Itam juga akan menyediakan bibit pohon karet. Karena warga di sekitar tempat tinggalnya, banyak yang menjadi petani karet dan buah durian.

Nantinya, akan ada tim khusus untuk pembibitan yang akan menggarap bisnis baru Bumdes Lebung Itam tersebut.

Sebelumnya, Bumdes Lebung Itam yang sudah berjalan 5 tahun terakhir, sudah menjalankan bisnis lainnya, yakni penyewaan kursi untuk acara pernikahan.

“Jual bibit ini akan jadi usaha baru kita. Makanya kita ikut pelatihan ini, untuk mengetahui apa potensi dan bagaimana cara untuk menjalankan bisnis serta mencari investor untuk Bumdes, terutama di daerah,” katanya.

Bumdes Mandiri

Pelatihan dan Pendampingan – Peningkatan Kapasitas Badan Usaha Milik Desa dan Unit Usaha Masyarakat di Area Gambut di Provinsi Sumsel, di Hotel Aryaduta Palembang (Dok. Humas ICRAF Indonesia / Detak-Palembang.com)

Tri Ismono, Tim pelatih Bumdes / Konsultan ICRAF Indonesia menuturkan, pelatihan tersebut membutuhkan identifikasi seperti apa pola bisnis terutama di lahan gambut, namun lebih ke pada menggerakkan masyarakat untuk bisa melihat pola bisnis seperti apa yang cocok di daerahnya.

“Tugas kami untuk memotivasi dulu dengan program mereka seperti apa dan cocok di daerahnya dan pangsa pasar yang berpotensi. Harus melihat supply dan demand-nya,” ujarnya.

Beberapa materi yang diajarkan ke anggota Bumdes, yakni business self assessment, ide usaha di sektor agribisnis, wirausaha yang jelas, pemasaran dan digital marketing serta cash flow .

Aulia Perdana, peneliti ICRAF Indonesia untuk Pasar dan Rantai Nilai Hijau mengungkapkan, pendampingan dan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kapasitas pengelola Bumdes dan unit usaha lain di desa.

Kegiatan tersebut juga merupakan lanjutan dari sosialisasi BUMDes, yang telah dilakukan di awal Agustus 2022. Para peserta pun sudah menyampaikan kendala‐kendala, seperti modal, Sumber Daya Manusia (SDM), pemilihan unit usaha, pemasaran dan lainnya.

“Acara ini berhubungan dengan lanskap di OKI dan Banyuasin, yang terhubung pada Bumdes, yang berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ujarnya.

Dia menuturkan, kegiatan itu juga mengajarkan pemasaran dan mengindentifikasi peluang serta hambaran untuk Bumdes maupun unit usaha lain di tingkat desa. Agar masyarakat desa bisa melakukan usahanya secara mandiri dan terarah.