Detak-Palembang.comKetika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani masih Bayi, sang Ibu mendidiknya untuk berpuasa di bulan Ramadhan…Maka pada waktu siang hari dibulan Puasa, Syekh Abdul Qadir Jailani yang masih Bayi tidak mau menyusu, pada saat berbuka puasa barulah Beliau mau menyusu pada Ibunya.

Saat Syekh Abdul Qadir telah mencapai usia seperti anak-anak lainnya,  Beliau dihantarkan oleh sang Ibu ke Madrasah dan ke rumah Guru Agama.

Setiap kali pulang dari Mengaji, Beliau meminta makan, maka Ibunya akan menyuruhnya Shalat 2 Raka’at dulu dan berdoa untuk meminta Kepada Allah Swt.

Ketika Putranya Shalat, Ibunya akan menyediakan makanan dibawah tudung saji. Beginilah yang dilakukan Syekh Abdul Qadir setiap harinya…Setiap kali hendak makan, Beliau pasti Shalat 2 rakaat dahulu dan Ibunya akan segera meletakkan makanan dibawah tudung saji.

Pada suatu hari, Syekh Abdul Qadir pulang dan mendapati Ibunya tidak ada di rumah dan seperti biasa, Beliau Shalat 2 Rakaat minta makanan dari Allah Swt.

Ibunya yang ketika itu masih dipasar baru teringat tentang anaknya di rumah. Beliau bergegas pulang dan mendapati anaknya sudah tidur, akhirnya Ibunya membangunkannya untuk makan.

Namun Syekh Abdul Qadir mengatakan bahwa dia sudah makan, mendengar jawaban Putranya itu, ibunya heran dan bertanya hal yang dialami Putranya itu.

Syekh Abdul Qadir menjawab : “Seperti biasa Ummi, aku Shalat dan makanan sudah tersedia…Cuma hari ini, makanannya lebih lezat dan sedap dari makanan-makanan sebelum ini”.

Mendengar jawaban Putranya itu, maka sang ibu mengetahui bahwa Anaknya telah mencapai Derajat Kewalian sejak masih usia dini.

Beginilah Tarbiah Seorang Ibu kepada anaknya, yang akhirnya menjadi Ulama dan menjadi Wali besar yang mempunyai Maqom tertinggi di zamannya.

Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.