Detak-Palembang.com JAKARTA – Tahun baru 2018 baru saja kita jalani bersama. Di tahun ini bangsa Indonesia akan menyelenggarakan hajatan politik yang besar, karena di beberapa wilayah akan mengadakan pemilihan umum kepala daerah. Dan diprediksi ekonomi secara global akan berputar deras di daerah pada setiap kabupaten, kota dan provinsi yang menyelenggarakan pilkada.

Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, tahun politik akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah namun juga memicu inflasi.

Enggartiasto menyebutkan saat Pilkada dan Pemilu diprediksi uang beredar di daerah semakin banyak dan pertumbuhan ekonomi daerah akan begeliat, seperti percetakan kaos, sablon, dan makanan. Hal itu akan menimbulkan persoalan jika inflasi tidak dijaga.

“Jadi peningkatan ekonomi di daerah pasti meningkat. Yang soal adalah bagaimana peningkatan itu tidak ada push terhadap inflasi. Itu yang harus dijaga,” kata Enggartiasto di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta, Kamis, 4 Januari 2018.

Ia cukup senang dengan capaian inflasi 2017 yang hanya sekitar 3,61 persen. Inflasi ini di bawah target di Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang sebesar 4,3 persen.

“Dalam perjalanannya, inflasi secara keseluruhan saya bisa sampaikan dari data BPS (Badan Pusat Statistik), 2017 kita boleh bersyukur yang terendah dan kita akan tetap mengusahakan untuk mengendalikan inflasi ini di tahun selanjutnya,” ujar dia.

Seperti diketahui, BPS merilis data inflasi tahun kalender (year on year/yoy) 2017 yang sebesar 3,61 persen. Realisasi inflasi ini lebih tinggi dibanding inflasi 2016 yang sebesar 3,02 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, penyebab inflasi tahun ini sebagian besar karena harga yang diatur pemerintah (administred price).