Dicky owner pempek beringin

 

Detak-palembang.com PALEMBANG – Keluhan Warga Komplek Kehutanan Jalan Sukawana  KM 7 Palembang prihal bau menyengat yang timbul akibat pengolahan limbah industi pembuatan pempek mendapat tanggapan dari pemilik Pempek Beringin.  

Menurut warga setempat bau menyengat sangat mengganggu mereka dan membuat muat. Sistem pengelolaan air limbah dalam sebuah industi harusnya menjadi syarat saat izin diberikan. Hal itu juga yang harus dilakukan oleh industri Pempek Beringin.

“Bau busuk ini sangat mengganggu terutama saat musim kemarau. Bau ini timbul senaka ada pabrik pengolahan pempek ini, “ ujat Septi warga setempat.

Industri pengolahan pempek menghasilkan limbah padat dan limbah cair.  Limbah padat berupa sisa sisa bahan olahan yang bebahan utama ikan dan tapioka.


Industri pempek yang diketahui mengutamakan higienis dalam sistem pengelolaannya, ternyata cukup banyak dikeluhkan, akibat limbah sisa yang cukup menyengat dikawasan tersebut.
Pemilik Pempek Beringin, Dicky tidak membantah adanya adanya bau menyengat yang ditimbulkan dari limbah dari industri pengelolaan pempek miliknya.

Sebelumnya Dicky sudah mencoba membuat Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang dipakai selama satu tahun terkhir.  Namun IPAL ini tidak berfungsi seperti yang diharapkan

“Sekarang kami sedang mempersiapkan IPAL baru dari pabrik pembuat IPAL yang rencananya akan dipasang pada Senin besok,” ujarnya usai kegiatan teleconfrence dengan pengusaha pempek yang ada di London beraama Walikota, Minggu (1/10/17).

Dicky menerangkan, persoalan IPAL memang masih menjadi masalah pada industri pempek miliknya. Dimana, pertama kali itu sekitar dua tahun yang lalu, seperti layaknya proses rumah tangga dan lainnya, dimana usai produksi tidak ada sistem pengelolaan limbah dan langsung buang ke saluran kota.

“Ternyata hal itu menimbulkan efek yang negatif, terutama bau atau aroma tak sedap dari hasil pengelolaan makanan yang diproses dari hasil memasak. Dimana, dari hasil buangannya itu, mengendap dan akhirnya membusuk, “ujarnya.

Menurutnya adanya permasalahan pada limbah yang dihasilkan. Akhirnya dibuat sendiri sistem pengelolaan air limbah, berjalan hampir satu tahun, bau dari limbah yang dihasilkan berkurang hampir 70%,” jelasnya.

Meski berhasil mengurangi sekitar 30%. IPAL yang dibuat dalam meminimalisir limbah tersebut masih dianggap gagal. Karena, dari hasil penelitian di laboratorium masih memungkinkan untuk menimbulkan bau, apalagi saat musim kemarau.

“Dari hasil pembuatan sistem pengelolaan air limbah yang kita buat sendiri yang berjalan hampir satu tahun, ternyata masih gagal. Apalagi saat musim kemarau, karena tidak didorong oleh air hujan,” ujarnya.

Melihat hal itu, sambungnya, pihaknya kemudian menutup sistem pengelolaan air limbah yang sudah dipakai sekitar satu tahun tersebut. Kemudian, saat ini dibuat kembali IPAL dengan melibatkan konsultan, sesuai saran-saran instansi terkait.

“Sesuai saran-saran instansi terkait, akhirnya kita pakai konsultan, dimana mereka pastinya akan memberikan garansi dan hari Senin ini akan kita coba pasang,” sampainya.

Lokasi rencana IPAL

Untuk IPAL yang akan dipakai, menggunakan sistem pengelolaan air limbah dari pabrikan dengan enam kompartemen dengan menggunakan bakteri  aerob dan anaerob.

“Jadi kita pakai sistem kompartemen untuk bakteri yang pengguna oksigen dan bakteri yang hidup tanpa oksigen. Dimana sebelumnya kita masukkan dulu ke grastrab,” ulasnya.

Untuk IPAL, Dicky membantah jika industri pempek miliknya disebutkan tidak memakai sistem pengelolaan air limbah. Karena yang benar adalah, sudah terpasang tapi gagal.

“Untuk sementara waktu, selagi proses pemasangan IPAL baru dilakukan, kami tetap melakukan produksi pempek dan pengelolaan limbahnya kami buang dengan menggunakan mobil limbah. Dan itu sudah berjalan sudah hampir satu bulan ini,” ungkapnya.

Selagi menunggu pembuatan IPAL baru, pihaknya juga merubah metode memasak pempek dari sebelumnya direbus, diganti dengan cara dikukus. Dimana Dicky beralasan, metode tersebut dilakukan untuk meminimalisir limbah yang dihasilkan.

“Proses masak-memasak yang sebelumnya menggunakan air, sementara waktu kita ganti dengan metode kukus. Karena metode kukus, air cucian, limbah atau air sisa masakan tadi di steam dan hampir 90% hilang. Jadi jika selama ini limbahnya 100 liter tersisa hanya 15 liter,” jelasnya.

Akibat dari semua itu, Dicky mengaku pihaknya sudah meminta maaf kepada warga disekitar, terkait bau menyengat akibat limbah yang dihasilkan industri pempek miliknya.

“Kami sudah meminta maaf dari empat bulan yang lalu. Bahkan sudah untuk yang kedua kali. Dimana yang pertama diakibatkan bau limbah yang sampai ke jalan raya, karena kita belum bikin IPAL yang gagal tadi. Kemudian dari bau limbah dari IPAL yang gagal tadi,” tuturnya.

Dapur pengolahan pabrik pempek beringin

Dari pantauan detak-palembang.com ternyata pempek beringin masih merebus saat memasak pempek.  Kegiatan produksi ini disaksikan saat rombongan walikota Palembang meninjau dapur pengolahan.

Menyikapi hal itu, Walikota Palembang Harnojoyo akan mencari tahu terkait limbah yang dihasilkan oleh industri Pempek Beringin.

Karena, butuh proses yang akan dilakukan Dinas Lingkungam Hidup dan Kebersihan (LHK), untuk menyelidiki terkait limbah yang dikeluhkan masyarakat.

“Ini akan kita lihat lagi, karena keberadaan IPAL menjadi hal penting bagi setiap industri,” imbuhnya.