Raimon Lauri

Detak-Palembang.com – Palembang , Harga telur ayam ras menjadi bahan komoditas yang naik lebih dulu menjelang natal dan tahun baru (Nataru) 2022/2023. 

Tidak hanya di pasar tradisional tetapi juga di pasar modern. Kenaikan harga cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasanya.

Untuk mengantisipasi kenaikan telur Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Palembang mengimbau masyarakat untuk konsumsi telur sewajarnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Palembang, Raimon Lauri, mengatakan pihaknya sudah memantau beberapa pasar tradisional di kota ini. 

“Setelah kami pantau beberapa pasar, distribusi dan pasokan sembako di pasar aman dan cukup,” ujarnya, Senin (28/11/2022). 

Dia mengatakan, untuk harga telur memang ada kenaikan, namun tidak terlalu signifikan. 

“Kenaikan harga telur karena permintaan telur meningkat menjelang natal dan tahun baru, maka dari itu saya mengimbau masyarakat untuk mengkonsumsi telur dengan sewajarnya saja untuk mengantisipasi harga telur naik lagi,” tegasnya.

Sementara itu, kenaikan harga, menurut sejumlah pedagang baik di Pasar Kamboja, 16 Ilir juga KM 5, biasa terjadi menjelang Natal. Sudah sejak satu pekan terakhir harga telur mulai naik.

“Permintaan dari pembeli juga banyak. Biasa selain untuk hidangan juga ada yang mau bikin kue,” kata Romlah pedagang di Pasar 16 Ilir.

Sebelumnya, harga telur ayam ras ini hanya Rp21.000 – Rp24.000 per kilogram, tergantung harga jual dari distributor.

“Biasanya kita selisih harga paling Rp2.000 saja dibanding dengan distributor,” katanya.

Saat ini, harga dari distributor pun sudah tinggi. Sehingga pedagang terpaksa menaikkan juga harga jual eceran kepada pembeli.

“Sekarang harganya sudah naik, kita jual Rp27.000 – Rp28.000 per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga itu, menurut sejumlah pedagang, biasa terjadi menjelang Natal. Tidak hanya telur, tetapi akan menyusul juga daging ayam dan sapi, juga bahan pokok lainnya.

“Biasalah kalau menjelang Natal atau Lebaran, harga telur naik. Belum nanti yang lain-lain pasti naik,” ujar Romlah. 

Kenaikan harga komoditas pangan tentu sangat mempengaruhi masyarakat yang hendak membeli kebutuhan pangan sehari-harinya.  

Karena harga mahal, kebanyakan pembeli mengurangi jumlah pembelian untuk menghemat pengeluaran.

“Biasanya beli telur 1 kilogram, sekarang setengah saja dulu. Beli yang lain saja, bisa tempe, itu lebih murah,” kata Fina, pengunjung Pasar Kamboja. (*)