Pupuk organik (Dok. pustaka.setjen.pertanian.go.id)
Pupuk organik (Dok. pustaka.setjen.pertanian.go.id)

Detak-Palembang.com, Ogan Komering Ilir – Pupuk organik secara mandiri atau pun lewat mekanisme bantuan pemerintah masih dinilai sebagai solusi atas terbatasnya jumlah pupuk subsidi yang mampu disediakan pemerintah, serta masalah lain yakni harga pupuk non-subsidi yang cukup tinggi.

Seperti yang dilakukan oleh petani asal Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Sugeng Riyanto, yang mengatakan bahwa pupuk organik menjadi alternatif jitu yang bisa dilakukan petani agar tetap bisa memenuhi kebutuhan akan pupuk bagi tanaman.

“Ada, dengan mengelola kotoran dari kandang ternak sapi dan jadi pupuk organik, sudah lama lakukan,” kata Sugeng, menanggapi pertanyaan wartawan terkait solusi atas masalah pupuk, Kamis (26/5/2022).

Meski cocok untuk dijadikan alternatif, lanjut Sugeng, namun masih banyak petani masih belum sadar dan harus ada yang menggerakkan dalam penggunaan pupuk organik tersebut. Karena tidak instan seperti menggunakan pupuk subsidi atau kimia.

“Terkadang petani masih kurang sadar, harus ekstra tenaga dalam pengaplikasiannya. Untuk pupuk organik, satu ton tak cukup sehari untuk diangkut ke sawah. Jadi kadang-kadang masyarakat belum sadar. Akhirnya ditumpuk dan ditimbun di belakang sawah,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Sugeng, pihaknya berharap peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu petani merealisasikan dan mencari solusi ketergantungan dalam penggunaan pupuk subsidi tersebut.

“Mungkin bantuan peralatan untuk pembuatan pupuk organik dan pelatihan-pelatihan dari pemerintah ke petani, yang tidak membebani masyarakat, masyarakat sudah terbiasa dengan yang instan dan tidak terlalu repot. Mungkin bisa ada pelatihan, yang sifatnya tidak merepotkan petani,” katanya.

Lebih lanjut mmenurut Sugeng, pupuk organik mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan kimia, selain baik bagi tanaman dan bahan baku yang dinilai mudah didapat, pupuk organik mampu menekan biaya dalam aktivitas pertanian.

“Harga pupuk (non-organik) dibanding harga hasil kami jauh dan tak sesuai. Kalau hitung-hitungan dari
modal dan penghasilan, mungkin tak seberapa penghasilan. Modalnya terlalu besar, hasilnya tidak seberapa besar. Makanya kita pakai pupuk organik untuk menekan biaya operasional. Untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia,” sambungnya.

Pupuk organik pun menurutnya memiliki kualitas yang baik dan lebih ramah terhadap lingkungan sekitar.

“Banyak kelebihan pupuk organik, karena pupuk dari kotoran ternak itu lebih tahan lama untuk ke tanaman, jadi mungkin unsur hara lebih kuat, dipupuk kimia paling kurang tiga bulan sudah habis. Pupuk organik tiga bulan kondisi tanaman masih bagus,” ucapnya.