Detak-Palembang.com – Palembang , Wali Kota Palembang Harnojoyo menyetujui konsep pembangunan Pasar Terapung Darussalam dan Pasar Sekanak menjadi Pasar Ekonomi Kreatif Darussalam.

“Konsep pembangunan Pasar Terapung Darussalam dan Pasar Ekonomi Kreatif Darussalam yang sekarang Pasar Sekanak, sudah sesuai keinginan kita,” ujar Harnojoyo, usai memimpin rapat pembangunan dua pasar itu, di rumah dinasnya, Rabu (26/1/2022).

Ia menginginkan dua pasar yang bertujuan memperkuat ekonomi kerakyatan itu segera ditindaklanjuti.

Pasar Terapung Darusalam bakal dibangun di bawah Jembatan Musi Dua.

“Pasar terapung ini akan menjadi salah satu destinasi wisata. Jadi, selain tempat belanja juga nanti bisa jadi tempat wisata. Karena ini satu-satunya pasar terapung di Palembang,” ujar Harnojoyo.

Ia melanjutkan, pembangunan Pasar Sekanak jadi prioritas karena kondisinya saat ini terus mengalami degradasi atau penurunan. Maksudnya, aktivitas jual beli di sana dalam beberapa tahun terakhir kian sepi dan menurun.

Pasar Sekanak yang telah disepakati menjadi Pasar Ekonomi Kreatif Darussalam, ini akan terintegrasi dengan Sungai Sekanak Lambidaro dan langsung terhubung dengan Benteng Kuto Besak.

“Tentunya ini menjadi kawasan perekonomian baru yang akan menghidupkan perekonomian kita. Terlebih konsep pembangunannya akan lebih menarik, karena akan ada 17 sektor di dalamnya,” ujar Harnojoyo.

Selain aktivitas jual beli, akan ada tenant besar dan kecil, termasuk ruang santai bagi pengunjung dengan view yang menghadap ke Sungai Musi, sebagai salah satu ikon Palembang. Akan ada pula kegiatan seni, budaya dan kuliner.

Harnojoyo mengatakan, Pemkot Palembang akan menggandeng BUMN dan BUMD melalui dana CSR, juga bantuan pemerintah pusat, dana APBD di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah terkait, untuk sumber pendanaan pembangunan Pasar Ekonomi Kreatif dan Pasar Apung Darussalam.

Masih dikatakan Harnojoyo, penataan Pasar Sekanak akan dilakukan tahun ini. Adapun Pasar Apung Darussalam karena butuh dana yang besar, dibangun secara bertahap.

“Kalau untuk Pasar Apung, mungkin bangun tamannya dulu. Yang pasti kita finalkan dulu desainnya.”

Akademisi Universitas Sriwijaya Bidang Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata, Prima Della, dalam pemaparannya, mengatakan pihaknya telah mematangkan konsep pembangunan dua pasar ini.

Lokasi Pasar Apung Darussalam di Musi II, Kecamatan Gandus. Arsitekturnya akan berada di antara dua jembatan, Jembatan Musi II dan duplikatnya, yang dibangun secara semi melingkar.

Dalam lingkaran pembangunan itu, akan dipenuhi perahu pedagang, baik pedagang sembako, sayuran, ikan dan kebutuhan lainnya. Untuk pedagang pakaian dan sejenisnya, akan disediakan los khusus dalam lingkaran bangunan itu.

“Pasar Apung Darussalam ini konsepnya mengembalikan perdagangan di atas air,” ujar Prima.

Pasar ini akan menampung 300 pedagang, di mana mereka berjualan di atas perahu kecil, sementara pembeli di dermaga.

“Nantinya akan banyak perahu kecil pedagang di sana,” kata Prima.

Saat ini, Pasar Apung Darussalam sudah selesai tahap perencanaan dengan estimasi biaya pembangunan Rp 700 miliar secara hitungan kasar.

“Konstruksi bangunan harus benar-benar kuat, karena berada di atas air. Bisa memakan waktu pengerjaan pembangunan 2 sampai 3 tahun,” Prima menyebutkan.

Ia melanjutkan, Pasar Apung Darussalam yang akan dibangun di atas lahan seluas 9 ribu meter persegi, ini meliputi pembangunan di bagian darat untuk ruang parkir dan taman, juga pembangunan semi melingkar dan los pedagang di atas air.

“300 meter persegi untuk bangunan Pasar Apungnya, dan 600 meter persegi untuk pembangunan di bagain daratnya,” Prima merinci.

Ia menambahkan, sedangkan pembangunan Pasar Ekonomi Kreatif Darussalam (Pasar Sekanak), di atas lahan seluas 8.300 meter persegi diperuntukan 250 los ini.

“Untuk biaya pembangunannya belum bisa dirincikan.”

Adapun konsep pembangunan Pasar Ekonomi Kreatif Darussalam ini, ini akan dibongkar. Hanya dua bangunan bekas peninggalan Belanda yang bakal dipertahankan, karena setelah diteliti, konstruksinya masih kokoh, yakni bangunan lelang ikan dan gudang. (*)