Detak-Palembang.com , – Guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa. Menuangkan segenap pikirannya untuk mencetak generasi terbaik bagi bangsa. Ikut serta dalam berperang melawan kebodohan. Waktumu habis untuk mereka yang hari ini menjadi orang-orang besar. Namun, pemberitaan media terus bertanya sudahkah sejahtera hidupmu?
Seperti yang telah dikutip di BORONG, KOMPAS.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto masih tidak percaya soal guru honorer di Manggarai Timur yang diberi gaji Rp 200.000 per bulan.
Pernyataan itu disampaikan saat ditanyakan terkait Elivina Nawu (33), guru honorer di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Ajang, Desa Persiapan Ajang, Manggarai Timur, NTT, yang menerima gaji Rp 200.000 per bulan.
“Saya tidak percaya gaji guru honorer di Kabupaten Manggarai Timur masih ada yang Rp 200.000 per bulan. Jikalau masih ada di sekolah-sekolah, saya sangat prihatin. Kemungkinan guru yang menerima gaji Rp 200.000 per bulan bersumber dari dana komite sekolah,” ujar Basilius saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).
Masalah ini bukanlah yang pertama. Kita bisa melihat bagaimana sistem hari ini telah gagal memenuhi kebutuhan guru layaknya pemenuhan pangan. Negara terkesan abai dalam memberikan kebutuhan pada pendidikan. Minimnya gaji yang diterima oleh guru honorer tak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikontribusikan untuk bangsa. Belum lagi, tidak sedikit guru honorer yang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan haknya. Seharusnya, negara memahami bahwa kualitas guru tergantung pada kesejahteraannya. 
Pendidikan merupakan bagian penting dalam kemajuan bangsa. Dan guru adalah pemeran utama untuk mencetak generasi terbaik kedepannya. Paradigma pendidikan di sistem ini patut dipertanyakan,apakah pendidikan menjadi hal yang dianggap penting dan krusial. Tak heran, sistem kapitalisme memang selalu menomorsatukan ekonomi, lalu mengakhirkan kepentingan yang lain, termasuk pendidikan.
Lantas, bagaimana pendidikan dalam sistem islam ?. Sistem pendidikan Islam sangat memuliakan posisi guru. Kesejahteraan guru sangat diperhatikan. Sangat masyhur bagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khattab, gaji pengajar adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp 36.350.250,- ( 1 dinar = 4,25 gram. Dan jika 1 gram = Rp 570.200).
Atau di zaman Shalahuddin al Ayyubi, gaji guru lebih besar lagi. Di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah gaji guru berkisar antara 11 dinar sampai dengan 40 dinar. Artinya gaji guru bila di kurs dengan nilai saat ini adalah Rp 26.656.850,- sampai Rp 96.934.000,-.
Jika kita menelaah penerapan sistem pendidikan dalam Islam, sungguh sangat berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Berawal dari paradigma mendasar bahwa pendidikan adalah salah satu hak warga negara yang harus dijamin oleh negara, maka negara akan menjamin kebutuhan masyarakatnya. 
Oleh karena itu, tak perlu dipertanyakan lagi kesejahteraan yang akan didapatkan oleh tenaga pendidik jika berada dalam naungan negara yang menerapkan islam secara kaffah.

Wallahu’alam
Oleh : Kiki Nadia Wati