Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) sedang merencanakan pembangunan jembatan penghubung 18 desa ke Kota Palembang.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Tata Ruang (PUBM-TR) Sumsel Darma Budhy mengatakan, pembangunan jembatan ini sebenarnya telah lama direncanakan oleh pemerintah Kabupaten OKI.

Saat ini ada 12 tiang pancang sudah tertanam. Namun karena terkendala anggaran, pembangunan jembatan tersebut akhirnya diambil alih Pemprov Sumsel.

“Jembatan ini merupakan penghubung antara dua kabupaten. Jadi tahun ini, kita sediakan anggaran untuk memulai pembangunannya,” katanya, Kamis (2/7/2020).

Menurutnya, penyelesaian jembatan yang memiliki panjang 260 meter tersebut, akan dilakukan dalam beberapa tahap.

Bahkan tahun ini ada anggaran Rp20 miliar, sehingga konstruksi jembatan yang bakal dibangun sekitar 100 meter.

“Dimulai dari wilayah Air Sugihan, OKI. Baru nantinya menyeberang ke wilayah Banyuasin,” ucapnya.

Proses pembangunan tahap pertama ini, lanjutnya, ditargetkan akan memakan waktu selama empat bulan.

Namun kendala pembangunan jembatan, yaitu distribusi material dan alat berat menuju lokasi.

Karena lokasi masuk wilayah perairan, sehingga harus diangkut menggunakan kapal ponton.

“Akses jalan darat belum memadai untuk sampai ke lokasi. Jadi dari pihak kontraktor sudah siap untuk melakukan mobilisasi,” ungkapnya.

Budhy menuturkan, secara keseluruhan, pembangunan jembatan membutuhkan biaya sekitar Rp84 miliar.

Nantinya, kelanjutan pembangunan akan dianggarkan lagi di tahun mendatang.

“Kemungkinan akan dilanjutkan tahun depan. Nanti dianggarkan lagi sampai selesai jembatannya,” ucapnya.

Kepala Desa Pangkalan Damai, Dimyati menuturkan, pembangunan jembatan sudah dinantikan masyarakat desa Pangkalan Damai dan 18 desa lainnya di wilayah Kecamatan Air Sugihan selama 30 tahun.

Menurutnya, selama ini warga desa kesulitan dalam mendistribusikan hasil bumi berupa buah kelapa sawit dan beras.

“Kami cuma bisa mengangkut sampai ke pinggir dermaga saja. Selanjutnya, pengangkutan menggunakan kapal jukung. Tapi biayanya sangat mahal,” ujarnya.

Dimyati mengaku, jembatan nantinya dapat menghubungkan wilayah Air Sugihan ke desa seberang.

Yang mana, jaraknya cukup dekat dengan jalan darat ke Kota Palembang. Sehingga, proses distribusi hasil bumi bisa lebih cepat dan murah.

“Untuk kendaraan, warga desa sebenarnya sudah sanggup membeli truk ataupun pick up. Masalahnya ya tidak ada akses jembatan tadi. Kalau jalan, walaupun masih tanah masih cukup baik,” ungkapnya.

Untuk menuju Palembang sebenarnya, warga bisa menempuh jalur darat. Tapi waktu yang dibutuhkan bisa sampai 18 jam, karena harus memutar cukup jauh. Selain itu, kondisi jalan ketika musim hujan sangat buruk.

“Musim kemarau saja sudah sulit. Apalagi saat musim hujan. Kendaraan sering terjebak di kubangan lumpur. Sehingga kehadiran jembatan ini kami tunggu-tunggu,” ujarnya.