Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda memberikan pembinaan di sentral Pembuatan Tahu Tempe

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Jelang memasuki era new normal usaha sentral pembuatan atau UMKM Tahu Tempe banyak menjerit. Bahkan produksi di perumahan koperasi tahu tempe (Primkopti) Jalan Macan Lindungan Kecamatan Ilir Barat (IB) I berjalan tertatih.

Melihat kondisi itu Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda sengaja berkunjung untuk melakukan pembinaan. Selama 60 menit memberikan edukasi terkait pemerintah telah membuka semua akses kembali normal jelang new normal. Dia mengatakan, permintaan tahu dan tempe baik di pasar atau penjual gorengan akan kembali normal.

“Saya datang ke sentral pembuatan tahu tempe agar kembali bangkit. Karena aktifitas akan kembali normal. Apa yang jadi kendala kalian baik itu soal modal akan kita (pemerintah kota) bantu,”kata Finda

Finda mengerti selama masa pandemi COVID-19 pendapat berkurang karena banyak aktifitas terhenti hingga tidak ada konsumen. Membuat untuk bangkit memerlukan banyak modal yang telah terkuras lantaran kebutuhan hidup meningkat karena harus berada di rumah saja.

“Kita ada Bank Palembang yang khusus untuk memberikan pinjaman bagi UMKM. Sekarang waktunya kembali berdagang dan bangkit lagi,”pungkasnya

Wawako Palembang bersama Mukhlas pemilik usaha Tempe

Sementara itu keluhan diutarakan oleh Mukhlas pemilik usaha tempe selama pandemi mengatakan, terpaksa mengurangi produksi sebanyak 50 persen. Lantaran tidak ada lagi permintaan tempe dari pedagang gorengan yang biasa berjualan di sekolah.

“Hanya setor ke Pasar 10 Ulu itu saja tidak banyak yang pesen. Kalau biasanya yang beli penjual gorengan. Biasa saya 3000 kg sekarang hanya 150 kg,”keluhnya

Diakuinya biasanya sebanyak 300 kg kedelai pembuatan tempe dia bisa mendapatkan penghasilan Rp 3 Juta. Sekarang tidak sampai separuhnya.

Wawako saat melihat pembuatan Tahu

Hal serupa juga di ceritakan Yoga usaha Tahu biasanya dia bisa memproduksi 350 kg sebanyak 7 karung tahu. Sedangkan sekarang hanya 200 kg berjumlah 4 karung saja.

“Satu karung harganya Rp 400 ribu, dulu bisa menghasilkan 7 karung karena banyak permintaan. Sekarang hanya 4 karung saja,”ucapnya

Finda Berikan Ancaman Tutup Usaha Tahu Tempe Kalau Ada Limbah

Wawako Ancam Tutup Usaha Tahu Tempe yang tidak memiliki IPAL

Sementara itu Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda juga melakukan peninjauan secara detail di wilayah perumahan koperasi tahu tempe (Primkopti) Jalan Macan Lindungan Kecamatan Ilir Barat (IB) I.

Alhasil dia menemukan ada usaha tahu tempe membuang limbah ke sungai. Hal itu membuatnya geram hingga terpaksa memberikan komentar. Dia menyebutkan akan menutup usaha tahu tempe apabila kedepan ada yang membuang limbah ke sungai.

“Kita lihat ada limbah tahu tempe di sungai belum di proses lewat IPAL. Kalau sudah pasti tidak ada limbah dia di buang ke sungai dalam keadaan bersih. Apabila masih ada tentunya usahanya harus di tutup,”tegasnya

Namun berdasarkan keterangan RT setempat usaha tahu tempe di Primkopti telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) induk. Namun ada beberapa wilayah di sekitar yang belum memiliki IPAL, lantas membuang limbah langsung ke sungai. Namun Wawako memberikan keringan waktu, apabila saat dia kembali memantau ada usaha tahu tempe yang masih membuang limbah ke sungai usahanya dipastikan segera di tutup oleh pemerintah