Ilustrasi ekspor

Detak-Palembang, PALEMBANG – Di tengah pandemi Corona Covid-19 di Indonesia, kontribusi pangsa pasar ekspor juga turut berpengaruh besar dalam menopang perekonomian suatu daerah.

Di Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri, pasar ekspor masih bertahan, di tengah kemerosotan beberapa sektor perekonomian di masa Corona Covid-19.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, salah satu negara yang menyerap produk dari Indonesia yaitu Tiongkok.

Negara Tiongkok bahkan masih menjadi negara primadona ekspor, meskipun di tengah pandemi virus Corona Covid-19.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, pada bulan Mei 2020 lalu, ekspor sebagian besar ditujukan ke Tiongkok.

“Ekspor ke negara itu sebesar 42,74 persen atau $102,93 juta,” ucapnya, Selasa (16/6/2020).

Ekspor Sumsel lainnya yaitu ke Korea Selatan (Korsel) sebesar $19,35 juta atau 8,03 persen dan Jepang sebesar $17,01 juta atau 7,06 persen.

Namun jika dibandingkan dengan ekspor bulan April 2020, mencapai $289,80 juta.

“Nilai ekspor kita turun 16,90 persen menjadi $240,84 juta pada bulan Mei 2020,” ujarnya.

Sementara untuk komoditas utama ekspor dari Sumsel yang terbesar pada Mei 2020, ada lima komoditas.

Yaitu bubur kayu/pulp senilai $95,19 juta, karet senilai $58,60 juta, batubara senilai $38,06 juta, karet tisu senilai $15,03 juta, dan hasil minyak senilai $9,98 juta.

“Secara persentase komoditas utama ekspor Sumsel pada bulan Mei 2020, paling besar adalah bubur kayu/pulp. Persentasenya capai 39,52 persen,” katanya.

Sedangkan untuk ekspor Provinsi Sumsel periode bulan Januari – Mei 2020, tercatat sebesar $1.435,73 juta.

Menurutnya, jumlah tersebut turun 15,22 persen, dibanding nilai ekspor pada periode sama di 2019 yang sebesar $1.693,41 juta.

BPS Sumsel juga mencatat terjadi penurunan, terhadap nilai impor Sumsel pada Mei 2020.

Pada bulan Mei 2020 lalu, turun 3,02 persen dibandingkan pada April 2020 yang sebesar $59,76 juta.

“Sebagian besar impor berasal dari Tiongkok sebesar $42,04 juta, lalu Malaysia $3,04 juta dan Belarusia sebesar $2,80 juta,” ucapnya.

Untuk impor Provinsi Sumsel pada periode Januari-Mei 2020, tercatat sebesar $259,57 juta atau naik 27,93 persen. Ini dibandingkan nilai impor pada periode sama di 2019 yang hanya sebesar $202,90 juta.

“Meski nilai ekspor Sumsel mengalami penurunan, total perdagangan luar negeri Provinsi Sumsel pada Mei 2020 mengalami surplus sebesar 182,89 juta Dolar AS,” katanya.