Aktivitas belajar mengajar di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Palembang, sebelum pandemi Corona Covid-19 (Inge / Detak-Palembang.com)

Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Kisruh telatnya pencairan gaji bagi guru honorer di Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), ternyata tidak hanya dialami oleh para tenaga pendidikan di sekolah reguler saja.

Fauziah, pengajar tunanetra di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palembang, juga harus merasakan hal yang sama.

Hal ini diungkapkan oleh Abi Hilmi, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Palembang. Menurutnya, Fauziah yang juga merupakan istrinya sudah sebulan terakhir ini tidak mendapatkan gaji.

“Biasanya sebulan sekali dapat gaji Rp400.000, tapi karena pandemi Corona Covid-19 ini, jadi terhenti,” ucapnya, Sabtu (13/6/2020).

Dia pun yang juga menggeluti aktivitas syiar sebagai da’i di berbagai pengajian dan khotbah Jumat, juga mengalami hal yang sama.

Terhentinya aktivitas pengajian dan berkurangnya salat Jumat beberapa peka lalu, membuat pendapatannya pun semakin minim.

“Kita pernah dapat bantuan sembako dari pemerintah sebelum lebaran. Tapi itu hanya sekali. Perhatian pemerintah sangat minim untuk kaum disabilitas, dari pihak sekolah juga tidak ada. Kemungkinan memang belum ada dananya,” katanya.

Istrinya tersebut awalnya merupakan guru honorer yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel. Sedangkan guru SLB di sekolah yang sama dinaungi oleh dinas sosial.

“Saya sempat mengurus menggantian status istri, dari guru disdik menjadi guru dinsos. Tapi banyak kendala. Padahal, istri saya bisa mengikuti pelatihan pijit,” ujarnya.