Detak-Palembang.com LABUHAN HAJI – Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf-Asia Tenggara, Abuya Syeikh H. Amran Waly Al-Khalidy telah mengadakan Haul Akbar Hadhratus Abuya Syeikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy dan sekaligus peresmian Yayasan Darussalam Tsani di Komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan, Minggu malam (21/6/2020).

Acara tersebut dihadiri  oleh seluruh Pengurus MPTT-I dan ribuan Jamaah dari berbagai Kabupaten dalam Provinsi Aceh. 

Dalam acara itu juga diadakan Peusijuk Pengurus Yayasan Darussalam Tsani oleh Mayor Inf (Purn) Ilyas Thayib. 

Pada kesempatan tersebut, Abuya Syeikh H.Amran Waly Al-Khalidy  menjelaskan tentang latar belakang pendirian Yayasan Darussalam Tsani di Komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji.

“Bahwa Yayasan Darussalam Tsani bukan untuk menguasai Darussalam, bukan untuk mencari nama, jabatan, harta dan lainnya tapi untuk saling kongsi dan berbagi dalam ilmu ketasawufan dan kesufian,” kata Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf-Asia Tenggara. 

Lanjut  Abuya Syeikh H.Amran Waly Al-Khalidy bahwa Yayasan Darussalam Tsani yang berada dalam Komplek Dayah Darussalam terdapat satu Balai yang bernama Sabilur Rasyad. Balai tersebut telah bertahun-tahun dimanfaatkan untuk mengajar Ilmu Tashawwuf dan Keshufian yang merupakan ilmu yang hak sebagaimana disampaikan oleh salah seorang Ulama Sufi terkemuka Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani dalam kitabnya Siyarus Salikin.

“Sudah sepantasnya bagi Ummat Islam untuk lebih banyak menghabiskan umur dan waktunya mempelajari dan mengamalkan ilmu Tashawwuf dan Keshufian tidak malah sibuk dan larut dengan ilmu yang lain,” ajak Abuya Syeikh H.Amran Waly Al-Khalidy. 

Melatar belakangi anjuran Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani, Abuya Syeikh H.Amran Waly Al-Khalidy secara nyata telah merasakan keberkahannya, sehingga telah dapat terbang kemana-mana, mengumpulkan Ulama-ulama Tashawwuf dan Keshufian baik tingkat Regional AsiaTenggara maupun Internasional dan mengadakan seminar Mudzakarah di Aceh, Malaysia, Sulawesi, Cibinong Bogor dan Batam.

“Ulama-ulama Internasional dari Mesir,Iran, Malaysia, Jawa, Turki, China, Kamboja dan Filipina yang berkunjung dan bertemu saya sangat bersyukur dan mendukung sepenuhnya dengan usaha-usaha yang saya lakukan,” lanjut Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf-Asia Tenggara.

Abuya Syeikh H.Amran Waly Al-Khalidy  menggagaskan, bahwa Yayasan Darussalam Tsani telah mempunyai badan hukum secara sah sesuai Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor:AHU-0009159.AH.01.04 tanggal 16 Juni 2020.

“Saya mengajarkan ilmu Tashawwuf dan Keshufian dengan dasar-dasar kitab-kitab Tashawwuf dan Keshufian seperti Tanwirul Qulub, Al-Hikam, Iqadzul Himam, Majmu Rasail, Tuhfatul Mursalah dan lain-lainya, karena ilmu yang terkandung didalam kitab-kitab tersebut adalah ilmu hak yang mencakup mengenai Tashawwuf Thariqat dan Keshufian yang menjadi pegangan Ulama-ulama terdahulu. Maka satu kesalahan besar jika ilmu yang ada di dalam dada Saya tidak Saya berikan dan ajarkan kepada orang-orang yang berkeinginan untuk menegakkan agama baik di Aceh, Indonesia maupun Nusantara,” pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf-Asia Tenggara. 

Yayasan Darussalam Tsani sangat terbuka menerima semua pihak baik Ulama, Cendikiawan, Pejabat Pemerintah maupun Masyarakat untuk membicarakan dan membahas semua hal terkait dengan ilmu Tashawwuf dan Keshufian di Balai Kabilah Sabilur Rasyad, sehingga tidak terjadi lagi salah dan gagal paham, tudingan jika Tauhid Tashawwuf dan Keshufian yang Saya ajarkan dinilai  ajaran yang menyimpang, menjelek-jelekan, mengkafirkan dan menyesatkan baik di Aceh khususnya maupun di Negara yang kita cintai ini.

“Saya tidak memaksakan Ustad-ustad/Guru-guru baik di dayah Darussalam dan lainnya untuk mengikuti ajaran Saya, tetapi yang perlu Saya garis bawahi kepada semua pihak bahwa jangan katakan ajaran Saya ini memurtadkan, ajaran menyimpang dan menyesatkan sebagaimana yang kita alami sebelumnya, sekali lagi silahkan datang ke Yayasan Darussalam Tsani dan untuk diketahui juga bahwa ditempat ini kita tidak perlu mengeluarkan biaya dan kewajiban apapun,” tutup Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf-Asia Tenggara.