Oleh :  Prasetyo Nugraha

Dalam satu bulan,sejumlahsejarah diperingati oleh bangsa Indonesia. Salah satunyaperingatanhari kebangkitan gerakan,reformasi98.Kesatuan tekad dan pandang mahasiswa bersama dengan elemen gerakan rakyat bersatu padu membangun gerakan secara serentak, dari sabang sampaimaraoke.Dialektika gerakan bergulir hingga dipuncak gerakannya pada21 Mei 1998,menjadi momentum sejarah jatuhnya rezim otoriterian dan sekaligus sebagai babak baru kehidupan demokrasi di Indonesia.

Dalam peringatan hari reformasi tahun 2020, terdapat dua momentum mengembirakan dan mengkhwatirkan. Mengembirakan ialah dimana saat ini moyoritas bangsa sedang menanti detik-detik hari kemenangan Idul Fitri 1441 Hijriah, dan mengkhwatirkan ialah dimana seluruh bangsa sedunia, tanpa kecuali di Indonesia berkalangkabut menghadapi pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Seiring masifnya penyebaranpandemi Covid-19yang mensasar seluruh wilayah tanah air hingga ke daerah terdepan, terluar dan terdalam dengan jumlah terkonfirmasi positif mendekati angka 20ribukasus, danjumlah dimaksuddapat 10 kali lipat kumulasinya mengingat antrean panjang spesimen dan korban yang terusberjatuhan setiap harinya. 

Kasus Covid-19 seakan menyingkapi status keberadaan Indonesia yang tidak dalam keadaan baik. Tedros Adhanom Ghebreyesus, KepalaWHO menyampaikan bahwa penyebaran virus corona Indonesia yang dimulai pada Maret 2020 diprediksi hingga juni dan juli mencapai 10 juta. Tingginya prediksi angka terjangkit, karena kesangsian terhadap komitmen politik penguasa atas pengentasan virus corona.

Selanjutnya, Singapore University of Technology and Design (STUD)dalammenyampaikandata prediksi akhir dari wabah coronapadasejumlah negara di dunia dengan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Simulasi yang dilakukan berbasis pemodelan matematika tipe SIR (susceptibleinfectedrecovered). Model SIR diregresi berdasarkan data jumlah individu maupun populasi yang rentan, positif terinfeksi, dan sembuh dari berbagai negara, untuk menghasilkan simulasi kurva pandemi di setiapNegara, dan Indonesia adalah negara mengalami beberapa kali kemunduran atas prediksi penuntasan Covid-19 serta mungkin terusmundurdari perkiraan para ilmuwan.

Koreksi Penanganan Covid-19

Dalam masa pandemi,ketakutan bukan pada Covid-19, tetapi pada sikap pemerintah dalam merespon Covid-19 lebih menakutkan.Di tengah meluasnya penyebaran virus, pemerintah menghimbau masyarakat agar tetap di rumah, tetapi investor dan tenaga kerja asing masih tetap didatangkan, dan di saat penerapan PSBB dan pelarangan mudik, izin pesawat agar tetap mengudara diberlakukan. Selain itu, ketika rakyat tercekik terimbas pandemi Covid-19, ribuan triliunan digelontorkan untuk relaksasi para pembisnis dan korporasi. 

Kebijakan kontradiktif, dimana ratusan masyarakat sipil menjadi korbanpada setiap harinya dan bahkan dari kalangan medispun turut menjadi korban keganasan virus pandemi. Karenanya mereka yang menjadi ujung tombak penanganan Covid-19 tersebut, bekerja tidak aman denganperlengkapan seadanya. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka merenggang nyawa. 

Jika menelisik lebih dalam, sebenarnya bukanlah tenaga medisyang berada digarda terdepan untuk mengatasi ancaman pandemi virus corona. Karena tidak butuh waktu lama menyudahi pandemi ini, tergantung pada palu di tangan pemegang otoritas tertinggi di pemerintahan. Hal ini terbukti pada praktek pencegahan pandemi masih dengan pendekatan purba; jaga jarak, isolasi, dan karantina, dsb, seperti dilakukan oleh umat manusia pada ribuan tahun yang lalu ketika menghadapi suatu wabah penyakit menular. 

Jika sedari awal pemerintahmemutuskan kebijakanpolitik untuk memutus matarantaiCovid-19, maka wabah tidak akan menjangkiti banyak orang. Selain itu, jika jauh-jauh haripendidikan tidak dikomersialisasi, maka stok tenaga medis akan lebih mumpuni menghadapi korban yang terjangkit, dan begitu jugajika secara fairtersedia dana publik untuk riset kesehatan dan untuk penyediaan perlengkapan medis, maka persebaran virus akan lebih mudah diatasi.

Tingkat keparahan Covid-19 ditandai dengan ketidakmampuan pemerintah selaku penyelenggara negara dalammelakukanpencegahandan penanganankasus corona. Shane Preussdalam Indonesia and Covid-19: What the World is Missingmengkoreksirendahnya tingkat pengujian Indonesia hingga kesalahan langkah pemerintah dalam memberikan respon terhadap penyebaran virus. 

Artikel yang dirilis pada awal Ramadhan tersebut menegaskan kombinasi antara masalah fasilitas kesehatan hingga cara tanggap yang buruk dari pemerintah, menjadikan wabah tersebut sebagai pandemi yang berdampak sistemik. Dan kini menuju idul fitri, cucuk cabut kebijakan masih begitu terasa. Dengan kesemberautan dalam penindakan kasus Covid-19, tidakhalnya menjangkiti pada wilayah kesehatan, tetapi pada seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wabah penyakit yang seharusnya menjadi “kaplingan” kesehatan tersebut, merangsek masuk ke wilayah ekonomi, memporakporandakan semua di dalamnya hingga berada ke titik nadir, dan demikian diakui sendiri oleh pihak pemerintah melalui menteri ekonomi, Sri Mulyani yang mengatakan bahwa krisis diakibatkan pandemi melebihi krisis 1998.

Ketidakberpihakan politik terhadap masalah kesehatan warga akibat Covid-19, mengakibatkan banyak warga terkonfirmasi positif,  begitupun ketidakberpihakan politik dalam masalah ekonomi masyarakat akibat Covid-19, mengakibatkan keresahan dan kemarahan sosial. Keberutalan virus corona semakin menjadi tatkala decision politiknya penguasa tidak menunjukkan willyang baik, salah sedikit mengambil keputusan berakibat positif terjangkit krisis politik, kalau sudah begitu, krisis sosial tidakkan terbendung.

Menuju Barometer Pengentasan Pandemi Covid-19

Di tengah ketidaksigapan jajaran pemerintah dan ditambah denganaturan karet dalam penindakan dan pencegahan pandemi Covid-19, muncul sisi kepahlawanan lembaga filantropidantenaga medis dengan melakukanaksinyata menangani korban terjangkit virus corona. Sisi lainnya, para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan kaum terpelajar dengan elemen gerakan lainnya mendirikan posko bantuan dan bahkan dapur umum untuk warga yang terkena dampak pandemi. Semua gotong royong, bahu membahu, dan saling tolong menolong

Slavoj Zizek dalam Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia, menunjukkan bukti adanyahal fundamental yang secara sadar dilakukanmasyarakat di tengah wabah penyakit menular, yaitu solidaritas dan kerjasama. Tindakan tersebut sebelumnya pasti dibayangkan akan sulit dilakukan, tetapi saat pandemi global, semua itu dilakukan dan benar-benar menjadi jalan keluar.Masyarakat sipil (civil society)dengan gegap gempita dan bangkit serentak di tengah pemerintah (pusat maupun daerah)terlihat gagap menghadapi wabah pandemi corona. 

Kondisi kritis akibat virus corona telah membuat setiap negara dihantui ketakutan sekaligus kepanikan. Tidak sedikit dari pemerintahan di dunia, tanpa kecuali Indonesiayang berupaya menutupi kepanikannya. Namun, aroma kepanikan yang menyengat itu pada kenyataannya berada di depan kepala masyarakat, sehingga masyarakat dengan mudah mencium bau ketidakberesan dan ketidakmampuan kekuasaan dalam menangani pandemi tersebut.

Zizek mengupas corona dalam spektrum yang lebih luas, bahkan statemen politiknya mengatakan bahwa Covid-19 tidak bisa diatasi dalam lingkup state (negara) apalagi secara lokal (daerah). Namun, paling tidak peran masyarakat secara nasional dan lokal dalam membersamai dan berbagi, dapatmenjadi modal sosial dalam melawati masa sulit saat pandemi berlangsung. 

Apalagi terlihatdalam setiap fase sejarah masyarakat Indonesiadenganberbagai cobaan berat seperti dimulai pada masa penjajahan kolonial, bencana alam, konflik sipil, dan krisis sosial, ekonomi serta politik, semua itu dapat dilalui dengan jalan selamat. 

Pengalaman masa lalu telah menguji masyarakat dalam memainkan peran penting, baik di masa sulit, apalagi di masa damai. Berkat masyarakat sipil yang kuat dan hidup, Indonesia dapat menjalani masa-masa kritis, seperti transisi kekuasaan otoritarian ke demokrasi secara damai,reformasi 1998. Dengan terkesan memuji persistensimasyarakat sipil di Indonesia, solidaritas dan kerja sama di level sosial kemasyarakatan dapat menjadi modal menuju barometer pengentasan pandemi Covid-l9 di Indonesia.

Penutup

Solidaritas dan kerja sama sosial adalah barometer yang harus diinvestasi dan dikelola secara baik, tidak boleh dibiarkan praksis di level moralis. Kepentingan kemanusiaan adalah yang utama, korban yang berguguran, baik terjangkit maupun terdampak Covid-19 harus dimobilisasi. Maka dalam refleksi reformasi 2020, demi penyelamatan umat manusia dan NKRI, sebuah semangat gerakan masyarakat sipil harus dibangun kembali melancarkan kekuatan tekan(pressure power).

Sekali lagi, yang berada di garda terdepan mengatasi ancaman pandemibukanlah tenaga medis, tetapi keputusan politik para pemegang otoritas tertinggi di republik ini. Pemerintah memang telah bekerja, tetapi penerapan double standarddalam kerjanya merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecendrunganmementingkan keperluan bisnis harus dikikis, sebab hukum bisnis bertentangan dengan hukum kemanusiaan. Logika untung-rugi tidak hanya berseberangan, tetapi sangat berlawanan dengan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Untuk kembali ke jalur reformasi, masyarakat sipil harus mengerahkan segala daya upaya bersama untuk memberikan solusi dengan tetap melakukan pembatasan sosial danbergotong-royongsaling meringankan beban sesama di masa sulit pandemi. Karena seberat apapun keadaan sekarang ini, kehidupan tetap terus berjalan. Saatnya berpikir, berencana dan bergerak, menuju keberpihakan politik yang terbebas dari pandemi.