Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Lelah mengayuh pedal sepeda mungkin tak terasa lagi di kaki Muhammad Prabu Siliwangi (30).

Keinginannya yang kuat untuk menjelajahi Nusantara, mengalahkan rasa penat dan lapar di tubuhnya.

Melihat pemandangan yang indah nan asri, seperti menjadi pengobat lelahnya perjalanan Sili, sapaan akrabnya.

Pria yang berprofesi sebagai penyadap karet ini, bertekad untuk terus mengayuh sepedanya demi menapaki daerah-daerah di Indonesia.

Berawal dari tanggal 1 Januari 2018, Sili mencoba menjajal hobinya bertraveling hanya dengan menggunakan sepeda.

“Perjalanan pertama dari Kabupaten Lahat menuju ke Lampung, lalu meneruskan ke Pulau Jawa, Bali , Lombok, Sumbawa, Flores, Irian, Sulawesi dan Kalimantan,” ucapnya, yang kembali mengayuh sepedanya menjelajah Indonesia untuk kedua kalinya, Rabu (6/5/2020).

Uniknya, dalam setiap perjalanannya Sili tidak pernah membawa uang sepeser pun. Bekal yang dia bawa hanya beberapa potong pakaian, tenda tiup, tikar, selimut, makanan dan minuman seadanya.

Meskipun lelah dan tidak berbekal uang, Sili bisa bertahan selama perjalanannya tersebut.

Bahkan, dia mengayuh sepeda kesayangannya ke berbagai daerah di Indonesia tersebut selama 1 tahun. Pada tanggal 31 Desember 2018, dia akhirnya sampai di Kabupaten Lahat.

Sili pun tak pernah merasa kapok untuk kembali mewujudkan cita-citanya menjelajah nusantara. Dia kembali melakukan perjalanan lintas provinsi pada tanggal 11 Mei 2019.

Berangkat dari Kabupaten Lahat, Sili kembali mengayuh sepedanya menuju Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan menjelajahi seluruh provinsi di pulau Sumatera.

Di setiap provinsi di Pulau Sumatera, dia habiskan waktu selama satu bulan untuk menikmati keindahan alam dan objek wisata religi di masing-masing daerah.

“Saya sudah mengelilingi Pulau Sumatera selama satu tahun ini. Sekarang saya kembali lagi melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Jawa, melewati Jalan Lintas Barat Sumatera,” katanya.

Pada hari Senin (4/5/2020), dia kembali melakukan perjalanan dari Kabupaten Lahat menuju ke Lampung. Untuk lebih cepat sampai, Sili pun memilih melintasi Kabupaten Muara Enim.

Menurutnya, jalur perlintasan ini lebih aman dari aksi kejahatan, dibandingkan harus melewati Jalan Lintas Timur Sumatera, yang rawan akan aksi kriminal.

Namun ada halangan tersendiri dalam perjalanannya kali ini, yaitu wabah Corona Covid-19.

Dia hanya akan mengayuh sepedanya hingga ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur (Jatim).

“Sampai di Banyuwangi saja, karena takut terpapar Covid-19 kalau sampai ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Sekalian saya juga mengunjungi saudara di sana,” katanya.

Untuk perjalanan pulang nantinya, Sili memilih perjalanan laut dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Pangkal Balam di Pulau Bangka.

Dari Pulau Bangka, dia akan langsung menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA) Banyuasin dan kembali lagi ke kampung halamannya.

“Kalau sudah mengelilingi Indonesia, rasanya puas sekali. Ini pengalaman hidup saya dan mewujudkan cita-cita saya sedari kecil untuk keliling Indonesia,” ujarnya.

Suka Duka Selama Perjalanan

Dalam perjalanannya ke Pulau Jawa, Sili hanya membawa 6 pasang pakaian, selimut, alas tidur dan tenda lipat, yang dikaitkannya di jok besi belakang sepedanya.

“Saya sering diberi makan, minum, uang, masker dan sarung tangan untuk mencegah Covid-19. Dari situ saya bertahan hidup selama perjalanan,” katanya.

Dia ingat betul pengalaman berkesan di perjalanan, yaitu dia tidak makan selama satu minggu. Di tengah perjalanan, tubuhnya pun tak kuat mengayuh pedal sepedanya.

Warga yang melihatnya sudah lunglai, akhirnya memberikan bantuan berupa uang untuk membeli makanan dan minuman. Pernah juga dia mengalami ban sepedanya bocor, sehingga Sili tidak bisa melanjutkan perjalanannya.

“Banyak sekali orang baik di jalan, apalagi saat ban sepeda saya bocor, ada bantuan dari pemilik bengkel yang memberikan bantuan,” ucapnya.

Para warga yang ditemuinya di perjalanan, juga sering menawarkan menginap di kediamannya atau di pos komunitas pengendara sepeda. Namun Sili memilih untuk membentangkan tendanya, karena lebih nyaman menghabiskan malam di dalam tendanya.

Biasanya Sili membentangkan tenda tiupnya di halaman masjid, mushola, SPBU dan kantor polisi. Tak jarang, Sili nekat membangun tendanya tanpa meminta izin oleh pengurus daerah tersebut.

“Kadang saya minta izin, kadang tidak. Tapi selama ini semuanya berjalan lancar, dan ini yang membuat saya terus ketagihan menjelajahi nusantara,” ujarnya.