Buah kelapa sawit dengan tiga spesifikasi berbeda-beda (Inge / Detak-Palembang.com)

Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang akan digelar di Kota Palembang dan Kota Prabumulih Sumatera Selatan (Sumsel) akan dimulai dalam waktu dekat.

Salah satu aturan PSBB yaitu jam operasional beberapa tempat usaha hanya diperbolehkan selama 5 jam.

Ternyata beberapa pengelola pabrik perkebunan seperti karet dan sawit, kurang menyetujui pembatasan jam operasional tersebut.

Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Fachrurrozi melalui Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP), Rudi Arpian mengatakan Pandemi Covid-19 membuat semua industri terganggu, tak terkecuali industri bidang perkebunan.

Menurutnya, tidak ada cara lain untuk bertahan selain melakukan efisiensi dan pemotongan ongkos produksi.

“Efisiensi menjadi skala prioritas saat ini. Agar pabrik bisa terus bertahan di tengah masa Pandemi,” ujar Rudi saat dikonfirmasi, kemarin (19/5/2020).

Pemberlakuan PSBB membuat industri hanya diberikan waktu bekerja tidak lebih dari 5 jam per shift.

Kondisi tersebut ditakutkan akan berdampak terhadap operasional perusahaan.

Dia mengharapkan, pengusaha pabrik karet dan sawit dapat diberikan keringanan beroperasional hingga 7 jam.

“Kami sudah sampaikan ke pemerintah kota. Agar khusus untuk pabrik karet dan sawit ini jam operasionalnya bisa diperpanjang,” ujarnya.

Diakuinya, permintaan tersebut relevan dengan alur proses produksi sawit dan karet. Termasuk pembelian TBS dan bokar petani yang membutuhkan waktu panjang.

Karena untuk pendistribusian TBS ke pabrik memerlukan waktu yang lama. Jika hanya dibatasi 5 jam, dia menilai tidak bisa mengakomodir buah sawit yang akan masuk ke pabrik.

“Ketika tertahan terlalu, buah sawit akan berkurang kualitasnya. Sehingga akan merugikan petani,” katanya.

Begitu juga dengan Bahan Olah Karet (Bokar), yang akan masuk ke pabrik.

Pembatasan operasional akan berdampak kepada petani yang tidak bisa menerima langsung hasil penjualan Bokar yang dibeli pabrik.

“Kami menyarankan ada pengecualian untuk operasional pabrik karet,” ujarnya.

Untuk harga TBS saat ini, mengalami titik terendah di sepanjang 2020 di kisaran Rp1.285,97 per kilogram.

Sedangkan harga tertinggi 2020 terjadi pada penetapan harga di tanggal 17 Januari 2020 sebesar Rp2.022,29 per Kg.

Untuk produksi minyak sawit selama Pandemi Covid-19 secara nasional mengalami penurunan hingga -0,9 persen. Karena adanya penurunan konsumsi dalam negeri sebesar 3,2 persen.

“Volume ekspor pun anjlok hingga 16,5 persen akibat adanya lockdown di negara tujuan,” ucapnya.

Sementara untuk harga karet juga mengalami titik terendah di kisaran Rp12.547 per kilogram untuk kadar karet kering (K3) 100 persen.

“Kondisi memang serba sulit. Namun, diharapkan berbagai kebijakan yang dibuat dapat mendukung keberlangsungan industri,” katanya.