Kemas Andi Syarifuddin menjadi salah satu keturunan dari ulama di masa Kesultanan Palembang Darussalam yang diamanahkan menjaga dan melestarikan Alquran tinta emas (Inge / Detak-Palembang.com)

Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Alquran tinta emas peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Mungkin sebagian besar warga Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) masih asing dengan kitab suci ini.

Kitab suci umat Islam ini memang tidak diletakkan di museum atau perpustakaan yang mudah diakses orang banyak.

Namun Alquran tinta emas ini mempunyai nilai sejarah yang sangat berharga, terutama di masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Alquran tinta emas ini disimpan oleh Kemas Andi Syarifuddin (49), yang merupakan keturunan dari khatib penghulu dan pengurus Masjid Agung Palembang, di masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebanyak 10 buku kitab suci Alquran dan 90 buku manuskrip sejarah keislaman peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, masih tertata rapi di lemari etalasenya di kediamannya, di Jalan Faqih Jalaluddin 19 Ilir Kecamatan Bukit Kecil Palembang.

Pada usia 21 tahun, Kemas Andi Syarifuddin diamanatkan oleh kakeknya Kyai Kemas Haji Umar, untuk meneruskan menjaga buku peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam tersebut.

“Kakek saya mengamanatkan Alquran tinta emas dan manuskrip tersebut. Karena saya juga mempelajari ilmu Islam di kampus, peninggalan buku tersebut sangat membantu saya mendalami ilmu agama lebih luas,” katanya, Minggu (10/5/2020).

Usia buku dan kitab suci Alquran tinta emas yang sangat tua, membuatnya harus merawat dengan sangat telaten.

Dari tulisan arab melayu, Alquran tinta emas tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari 200 tahun sejak dibuat di masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Bahan baku kertasnya sendiri, dikirim dari Eropa. Sedangkan tinta emasnya berasal dari leburan emas 18 karat di masa dan sampul depan Alquran berasal dari leburan lempengan emas.

“Tulisan tinta emas ini hanya ditemui di tiga bagian dari lembaran Alquran. Yaitu di bagian depan yang bertuliskan Surat Alfatehah dan Alif Lam Mim,” katanya.

Di bagian tengah, tulisan tinta emas mengukir Surat Al-Kahfi. Serta di bagian akhir, tulisan tinta emas menghiasi Surat An-Nass dan Al-Fallaq.

Ukiran Simbar khas Melayu Palembang, semakin mempercantik lembar demi lembar Alquran tinta emas tersebut.

Dari 10 kitab suci Alquran tinta emas peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam tersebut, ada 2 kitab suci Alquran yang sudah lapuk di makan usia.

“Kitab suci Alquran tinta emas ini ditulis tangan oleh para ulama dan kepala penghulu, yang disebut Pangeran Penghulu Nata Agama. Setiap 1 kitab suci Alquran, ditulis oleh satu orang,” ungkapnya.

Untuk menyelesaikan tulisan di Alquran ini, para ulama bisa menyelesaikan sekitar 1 tahun.

Selain menunggu stok kertas yang diimpor dari Eropa, proses peleburan emas menjadi tintanya juga membutuhkan waktu.

Terlebih di masa Kesultanan Palembang Darussalam, para ulama hanya bisa mengerjakannnya di pagi hingga siang hari, karena belum ada listrik di saat itu.

Sedangkan 90 buku manuskrip sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, berisi berbagai ilmu pengetahuan. Seperti tentang Ilmu Agama Islam, Fiqih, Tauhid, Tasawuf dan obat-obatan herbal yang digunakan di masa itu.

Ayah 3 orang anak ini juga mendapatkan berbagai penghargaan, karena sudah menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam. Salah satunya dari Badan Perpustakaan Nasional, yaitu Pelestari Naskah Kuno.

“Banyak yang mempelajari Alquran tinta emas ini, bahkan hingga para turis dari luar negeri. Sepetti Malaysia, Jepang, Singapura hingga Belanda,” katanya.

Biasanya setiap bulan Ramadan, selalu ramai para warga yang ingin melihat Alquran tinta emas di rumahnya.

Namun di tengah pandemi Covid-19 dan penerapan Social Distancing, kediaman pria kelahiran Palembang, 26 Mei 1971 ini tak terlihat aktivitas seperti di bulan Ramadan sebelumnya.

Saat ini Kemas Andi Syarifuddin bekerja sebagai staff laboratorium naskah di Pasca UIN Raden Fatah Palembang.

Kitab suci Alquran tinta emas dan puluhan naskah ilmu pengetahuan dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam tertata rapi di lemari etalase rumah Kemas Andi Syarifuddin (Inge / Detak-Palembang.com)

Di tempat kerjanya, dia turut meminjamkan Alquran tinta emas tersebut untuk penelitian para mahasiswanya.

“Saya juga sering ikut dalam berbagai pameran, untuk mengenalkan Alquran tinta emas ke masyarakat luas, seperti di Jakarta dan Bima Nusa Tenggara Barat (NTB),” ucapnya.

Karena nilai sejarahnya yang tinggi, banyak para kolektor yang berminat memboyong Alquran tinta emas tersebut.

Namun tak sedikit pun Kemas Andi Syarifuddin untuk tergerak menjualnya. Menurutnya, manuskrip naskah kuno ini lebih bernilai dari materi dan harus terus dijaganya.

“Ini jadi peninggalan bersejarah dan turun temurun dijaga oleh keluarga. Jadi tidak akan saya jual dan akan terus dijaga untuk melestarikan peninggalan sejarah Palembang,” ujarnya.