Kursi Roda Impian Lasmini

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Potret kehidupan masyarakat kecil di Kota Palembang cukup menyedihkan apabila ditelusuri lebih dalam.

Hal itu terkuak saat Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda melakukan aksi sosial pembagian sembako ke warga miskin di tengah pandemi COVID-19.

Hari ini Kamis,(28/5) biasanya Finda nama sapaan Wawako melakukan blusukan door to door berkunjung ke rumah warga.

Sekitar pukul 10.00 WIB dia akhirnya sampai dan bertemu dengan seorang warga. Finda ternyata bertemu Lasmini berumur 45 tahun yang masih perawan. Dia tidak memiliki kedua orang tua lagi kedua kakinya layu dan lumpu total tidak bisa berjalan lagi.

Dari cerita keponakan Lia (15) Bibinya itu telah lumpuh selama tiga tahun awalnya karena kesurupan. Tapi tiba tiba kakinya tidak bisa berjalan. Sejak saat itu selama tiga tahun dia mengimpikan mempunyai kursi roda.

“Saya dapat kabar Lasmini kepengen punya kursi roda kan? Ini kami bawakan agar bisa jalan jalan keluar dan berjemur. Biar badanya sehat ya,”kata Finda saat bertemu Lasmini

Finda juga langsung mengajak Lasmini mencoba kursi roda tersebut. Ia membawa Lasmini berjalan keluar Lorong Winan yang tidak bisa dilakukan sejak tiga tahun lalu. Finda mendorong kursi roda yang diduduki Lasmini sejauh kurang lebih seratus meter.

Dari jauh senyum simpul Lasmini tumbuh mekar karena mendapatkan impiannya tiba tiba kursi roda datang ke rumahnya. Bahkan dia bisa bertemu langsung Wawako. Lasmini sendiri tinggal di Jalan Puding Lorong Winan RT/RW 19/07 Kelurahan 20 Ilir Kecamatan IT I. Lalu Wawako melanjutkan perjalanan setelah mengantarkan kursi roda dan memberikan uang santunan.

Nenek 90 Tahun Hidup di Atas Aliran Air

Tempat Tinggal Uwatini

Selanjutnya Wawako meneruskan blusukan ke Jalan Bambang Utoyo Lorong Cianjur 3 Kelurahan 5 Ilir. Kembali cerita pilu ditemui Detak-Palembang.com seorang Nenek berumur 90 tahun tinggal di rumah reot berada tepat di atas aliran air.

Finda langsung mendatangi rumah berada di RT/RW 23/2 itu milik Uwatini. Karena selain pembangunan rumah melanggar aturan (bangunan liar) juga membahayakan jiwa penghuninya.

“Kenapa tinggal disini Nek? Ini aliran sungai bukan rumah. Sekarang juga musim hujan kalau aliran air tinggi rumah hancur Nenek bisa bahaya,”kata Wawako kepada Uwatini

Melihat Wawako menyapanya Uwatini spontan menjawab dia berkata betah tinggal di rumah itu. Dia tidak mau tinggal bersama anak-anaknya. Bahkan Uwatini sudah sangat akrab dengan warga sekitar hingga diurus seperti layaknya keluarga.

“Saya senang bahagia nyaman tinggal disini,”katanya menjawab dengan polos

Ketika Detak-Palembang.com bertanya kepada Yusuf Lurah 5 Ilir menjawab memang Uwatini bandel tidak mau tinggal bersama keluarganya. Bahkan bangunan itu sendiri dibuatkan masyarakat secara gotong royong.

“Dia mau tinggal disini rumah itu warga yang membuatnya. Dia mau pindah kalau pulang kampung ke Jawa. Karena tidak mau tinggal bersama anak-anaknya,”ucap Yusuf

Melihat kondisi miris itu Finda langsung memberikan keputusan cepat agar Uwatini di evaluasi. Karena tempat tinggalnya itu sangat membahayakan nyawa sang nenek. Hari itu pun dia di pindahkan ke panti jompo agar mendapatkan tempat layak dan nyaman. Disana menurut Uwatini pasti akan nyaman karena banyak teman seumuran dengannya.

“Hari ini saya tadi bertemu dengan Lasmini dia lumpuh tidak mampu beli kursi roda. Lalu kita baru saja mendatangi Nenek Uwatini. Disini berbahaya untuk dia. Makanya tadi kita bujuk dia agar mau pindah alhamdulilah semua lancar. Saya harap masyarakat juga tetap antisipasi di kondisi hujan apa lagi COVID-19,”ucap Wawako kepada awak media melakukan sesi wawancaran setelah merampungkan kunjungannya