Detak-Palembang.com AS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana akan membuka kembali perekonomian AS walau kasus pandemic Corona Virus masih tinggi. Trump akan memulai aktivitas perekonomian di negaranya setelah hampir dua bulan melakukan lockdown. 

Rencana itu dia sampaikan saat mengumumkan target untuk menyediakanvaksinvirus corona pada akhir tahun 2020. Ia menyamakan proyek vaksin, yang diberi nama ‘Operation Warp Speed‘, dengan upaya Perang Dunia II untuk menghasilkan senjata nuklir pertama di dunia.

Namun Trump menjelaskan bahwa tanpa vaksin pun, warga AS harus mulai kembali ke kehidupan seperti biasa.

Di sisi lain, banyak ahli yang meragukan vaksin virus corona bisa dikembangkan dalam waktu satu tahun.

Dalam jumpa pers di Gedung Putih pada Jumat, 15 Mei 2020, Trump mengatakan proyek ini akan dimulai dengan studi pada 14 kandidat vaksin yang menjanjikan untuk mempercepat penelitian dan persetujuan.

Selain itu, Trump juga sudah yakin bahwa beberapa ratus juta dosis vaksin akan bisa dibagikan pada masyarakat umum pada akhir tahun 2020.

Banyak pakar mengatakan vaksin adalah satu-satunya hal yang akan memberi warga AS kepercayaan diri untuk sepenuhnya membuka kembali perekonomian tanpa adanya pengujian secara luas.

Dia melakukan itu karena tidak ingin ada warga yang menggantungkan hidupnya terhadap vaksin virus corona.

“Ada atau tanpa vaksin, kita kembali seperti biasa, dan mari kita mulai prosesnya,” kata Trump.

Awal pekan ini, Dr Anthony Fauci, yang bertugas di gugus tugas virus corona, bersaksi di hadapan Senat bahwa ‘terlalu jauh dari harapan’ untuk membuka kembali sekolah pada musim gugur.

Mandatory Credit: Photo by Evan Vucci/AP/Shutterstock (10434333bm) Donald Trump, Sauli Niinisto. President Donald Trump speaks during a meeting with Finnish President Sauli Niinisto in the Oval Office of the White House, in Washington Trump, Washington, USA – 02 Oct 2019

Sementara, Dr Fauci dan para pakar lainnya sangat yakin bahwa pengembangan vaksin akan membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun.

Namun, beberapa pakar kesehatan tetap skeptis tentang target pengembangan dan distribusi yang disampaikan Gedung Putih.

Dr Rick Bright, seorang direktur vaksin AS yang dicopot dari jabatannya setelah menuding Gedung Putih memberikan tekanan politik seputar perawatan virus corona, bersaksi di hadapan Kongres pada hari Kamis bahwa pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu satu dekade.

Selain itu, ada upaya lain yang dilakukan AS dalam menghadapi pandemi covid-19, salah satunya seperti yang mereka lakukan pada Bulan Maret, Gedung Putih meluncurkan prakarsa tes, meminta pengecer farmasi besar seperti CVS, Walgreens, dan Rite Aid untuk mendirikan tempat tes tanpa-turun (drive-through) di seluruh negeri.

Namun, kemitraan itu mandek, dan AS terus dikritik karena lambat dalam melakukan tes.

Dalam beberapa pekan terakhir, Gedung Putih mengumumkan upaya lebih lanjut dan telah membantu meningkatkan jumlah tes hingga hampir 10 juta pada 15 Mei, menurut basis data Our World in Data.

Selain prakarsa vaksin terbaru dari Gedung Putih, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan juga mengevaluasi kandidat vaksin untuk uji coba pada manusia.