Detak-Palembang.com PALEMBANG – Militer Amerika Serikat mengerahkan pesawat pengebom melakukan penerbangan di perairan sengketa Laut China Selatan. Komando Indo Pasifik AS melaporkan dua pesawat B-1B Lancers terbang di atas perairan Laut China Selatan dan melakukan operasi selama 32 jam.

Pihak AS mengatakan operasi penerbangan di perairan yang diperebutkan itu bermaksud untuk meyakinkan sekutu.

“Operasi ini menunjukkan model ketenagakerjaan angkatan udara dinamis US Navy sejalan dengan tujuan Strategis Pertahanan Nasional yang dapat diprediksi dengan kehadiran pembom yang terus-menerus, meyakinkan sekutu dan mitra,” kata Pacific Air Forces dalam siaran pers sebagaimana dikutip dari American Military News.

Misi itu diluncurkan di tengah upaya baru oleh Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) untuk menduduki pulau-pulau utama di wilayah Laut Cina Selatan yang diperebutkan.

Beijing baru-baru ini menamai dan menyatakan distrik kota atas pulau-pulau yang tidak berpenghuni di Laut Cina Selatan, yang juga diperebutkan Vietnam dan Taiwan.

Belum lama ini, aksi militer AS dari Angkatan Laut berlayar di dekat pulau-pulau yang dikaim Tiongkok dan bermaksud untuk mencoba memancing reaksi Negeri Tirai Bambu itu.

Sebelumnya,Tiongkok mengklaim telah mengusir kapal perang Angkatan Laut AS dari wilayahnya.

Hal inilah yang membuat AS memilih penggunaan pesawat udara yang dianggap lebih nyaman. Pada saat yang sama, pesawat-pesawat AS yang terbang jauh ke wilayah Tiongkok untuk menantang dan menciptakan risiko yang lebih besar dari konfrontasi di wilayah Laut China Selatan.

Pejabat AS mengatakan tindakan tersebut sebagai ‘misi pencegahan’.

“Pesawat kami telah melakukan, dan berpartisipasi dalam, berbagai latihan selama tahun lalu untuk memastikan kami siap untuk misi skala besar seperti ini,” kata Kolonel Ed Sumangil selaku komandan BW ke-7, seperti dikutip dari The Guam Daily Post.

“Kami senang bisa kembali ke Guam dan bangga terus menjadi bagian dari pasukan pembom yang siap untuk membela Amerika dan sekutunya melawan ancaman apa pun,” tambahnya.

Sumangil mencatat penyebaran seperti ini memungkinkan penerbang untuk meningkatkan kesiapan dan pelatihan yang diperlukan untuk menanggapi potensi krisis atau tantangan di seluruh dunia.

Sikap Indonesia

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa Indonesia terus mengikuti perkembangan aktivitas di Laut Cina Selatan (LCS).

Diketahui, ketegangan terjadi antara China dengan Amerika Serikat di wilayah Laut Cina Selatan.

Dilansir South China Morning Post, Pemerintah Cina menegaskan bahwa pihaknya berada dalam “siaga tinggi” untuk menjaga wilayah perairannya.

Hal ini menyusul masuknya kapal-kapal milik AS ke wilayah LCS sebagai bentuk penolakan terhadap klaim ekspansif Cina.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan pemerintah Indonesia turut prihatin atas situasi saat ini.

“Indonesia menyatakan keprihatinannya terkait situasi terkini di Laut Cina Selatan, yang mana berpotensi meningkatkan ketegangan di saat upaya kolektif global sangat dibutuhkan dalam melawan COVID-19,” kata Retno dalam konferensi pers virtualnya bersama media internasional, Rabu (6/5/2020).

Menlu Retno Marsudi menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di LCS.

“Termasuk memastikan kebebasan navigasi dan penerbangan, serta mendorong semua pihak untuk menghormati hukum internasional laut, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982,” jelasnya.

Filipina Protes

Pemerintah Filipina mengajukan protes diplomatik atas pembentukan kabupaten baru di China yang diklaim sebagai wilayahnya negeri Tirai Bambu.

Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr. mengatakan Manila sudah mengirimkan surat resmi ke Kedutaan Besar China.

Protes diplomatik itu berisi keberatan negara yang dipimpin Presiden Duterte itu atas wilayahnya yang di klaim sebagai bagian dari provinsi Hainan.

Selain itu, Locsin mengatakan bahwa Filipina juga memprotes tuduhan China soal penggunaan senjata radar di kapal Angkatan Laut Filipina di perairan negara itu.

“Ini adalah pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Filipina,” kata Locsin, dikutip dari CNN Filipina, Rabu (23/4/2020).

Sebelumnya China menciptakan dua distrik baru di Kota Sansha, kota paling selatan di provinsi Hainan, yang mencakup beberapa bagian di Laut Cina Selatan. Termasuk yang diklaim Filipina yakni Kepulauan Spratly, Scarborough Shoal, dan Fiery Cross Reef.

Perlu diketahui, China, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan bersitegang soal kepemilikan Kepulauan Spratly. Sementara Fiery Cross Reef, diklaim oleh Cina, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Sedangkan Taiwan, Cina, dan Filipina semuanya mengklaim Scarborough Shoal.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan juga membuat kapal perang Amerika Serikat (AS) dan Australia masuk ke kawasan ini, Selasa (21/4/2020). 

Sebagaimana dilaporkan Reuters, USS Amerika, USS Bunker Hills, USS Barry dan kapal Australia HMAS Parramatta beroperasi memantau kawasan ini di saat sebuah kapal China masuk di kawasan eksplorasi minyak Malaysia. 

“Kehadiran dan operasionalisasi kami di Laut China Selatan, adalah bagian kami bekerja dengan para sekutu dan mitra kami,” sebut Letnan Nicole Schwegman, Jubir Komando Indo-Pasifik AS. 

“Untuk mempromosikan kebebasan navigasi … serta prinsip-prinsip internasional yang mendukung keamanan dan kemakmuran di wilayah Indo-Pasifik.”

Masuknya kapal perang AS dan Australia tersebut berbarengan saat sebuah kapal survei China, Haiyang Dizhi 8, masuk ke perairan tersebut sejak 16 April. 

Dikutip dari The New York Times, kapal itu berada di dekat ladang minyak yang tengah dikelola Petronas Malaysia, bahkan berhari-hari membuntuti kapal perusahaan minyak itu.