Detak-Palembang.com PALEMBANG – Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi salah satu provinsi di Sumatera yang rawan terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), di saat musim kemarau tiba.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Sumsel Ferdian mengatakan Manggala Agni Sumsel terus berupaya untuk bergerak menyosialisasikan kerawanan kebakaran lahan, terutama di lahan gambut.

Menurutnya, lahan gambut harus benar-benar dijaga kebasahannya. Minimal menjaga tinggi muka air setinggi 40 sentimeter dari permukaan tanah.

“Kalau kurang dari situ, rawan sekali terbakar. Makanya ada kanal bloking,” ucapnya, Jumat (1/5/2020).

Di Sumsel sendiri, ada dua kabupaten yang mempunyai lahan gambut yang luas dan dalam, yang mempunyai riwayat kebakaran di beberapa tahun lalu.

Yaitu di Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel. Dimana, di kabupaten tersebut, lahan gambut bisa sedalam hingga 20 meter.

Jika lahan gambut tersebut terbakar, maka krisis air berpotensi besar terjadi di dua kabupaten tersebut.

“Kalau kondisi sekarang, wilayah gambut agak susag. Jika gambut tidak berfungsi seperti normalnya, sehingga jika musim kemarau, pasokan air akan hilang,” katanya.

Manggala Agni bersama tim Satgas Karhutla Sumsel, akan memetakan lokasi yang rawan kebakaran. Termasuk sumber air dimana yang berpotensi kering saat karhutla.

Di tengah masa pandemi Covid-19 ini, timnya sedikit kesulitan untuk masuk ke desa-desa, karena ada distancing social.

“Kami tetap bergerak menghindari pengumpulan massa. Namun jadi dila, ketika ada oknum yang masih membakar di lokasi lahan gambut. Itu kebakarannya akan awrt, karena bisa terbakar hingga kedalaman 20 meter,” katanya.

Pihaknya masih menunggu arahan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, untuk mempersiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan.