Siang itu …
Keadaan yang tak pernah kubayangkan
Saat cobaan terberat itu tiba tiba mengunjungi kehangatan kebersamaan kami
Yang memberi pertanda kenyataan yang tak terbantah menyayat luka terdalam.

Ibu …
Orang yang paling kucintai
Dalam pangkuanku pergi untuk selama lamanya
Diusia ke tujuhpuluh delapan tahun .

Kenyataan dan kepastian takdir rasanya begitu menyedu.
Sekuat tenaga menahan tangis
Sambil memeluk dan menurunkan jasadmu kembali kepada Sang Maha Pencipta.
Bersemayam dalam gundukan tanah merah .

Satu demi satu …
Kerabat dan karib berlalu
Sambil mengucapkan bela sungkawa .
Dan saat itu aku berbohong pada mereka .
Kuperlihatkan pada dunia “aku tidak menangis” namun disisi lain hatiku menjerit dan menangis sambil memanggil namamu Ibu.

Empatpuluh hari berlalu …
Terbayang kala ingat senyumanmu
Yang menegurku atas tingkah lakuku.
Masih terasa belaian tanganmu saat kau menyemangati kegagalanku .

Ibu….
Andai saja engkau masih ada
Andai saja engkau masih kulihat
Sebagai keramat dalam hidupku.
Kini aku hanya bisa membayangkan dan mengadaikan bersama derai air mata yang tak bisa kutahan.

Ibu..
Kutahu kau amat menyangi kami dan kutahu kau tak benar benar meninggalkan kami
Hanya jarak yang membentang diantara kita.
Takkan jadi penyekat semangat doa yang akan terus menerus kubaca
Untukmu ditempat yang paling indah yang telah dijanjikan Nya.

Ibu..
Aku mencintaimu dan selalu mencintaimu.

Win (14/5/2020)