Detak-Palembang.com – Saat ini, Indonesia butuh menjalin komitmen yang baik dengan himbauan yang dibuat pemerintah untuk mengatasi pandemic Covid-19 di Indonesia, karena pandemic ini bukan merupakan tanggung jawab pemerintah saja, melainkan peran rakyat yang seharusnya ikut andil dalam mematuhi himbauan pemerintah. Ketika pemerintah mengeluarkan himbauan, maka yang bekerja atas itu adalah masyarakat. Tindakan egois dan sikap bodo amat, adalah kunci menyebarnya Covid-19 di Indonesia, maka dari itu, rakyat harus memilih untuk patuh atau membiarkan pandemic ini merajalela di tanah air dengan memakan banyak korban jiwa, dan memiskinkan tiap kepala keluarga.

MengapadenganCovid-19?SeberapamematikanCovid-19bagiyangterjangkit?Daribanyak nya kasus yang kita lihat, maka terlintas didalam pikiran bahwa Virus Covid-19 ini sangat berbahaya. Hingga saat ini, virus yang berasal dati Wuhan, China ini, sudah menjadi musuhbesar bagi sebagian besar negara di dunia, dengan jumlah pasien positif tertinggi di Amerika, Spanyol, Italia,danPrancis.KasuspertamavirusCovid-19inipertamakalidilaporkanterdeteksidiWuhan, China, pada 31 Desember tahun lalu. Bahkan outbreak Covid-19 ini sudah dideklarasikansebagai kasus darurat bagi kesehatan masyarakat secara global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 30 Januarilalu.

DikutipdariWoldometers.info,sejak22Januarilaluhinggasaatini,kasusCovid-19sudah mencapai 2.182.025 kasus, dengan angka kematian sebanyak 145,513 dan 547,094 orang dinyatakan sembuh. Tentunya, jumlah tersebut bukan merupakan jumlah yang kecil, mengingat ada ratusan ribu pasien ODP yang masih menunggu hasil test swabkeluar.

Di Indonesia sendiri, kasus Covid-19 ini sudah mencapai angka 5 ribu lebih kasus, dan dengantambahan380orangpasienpositifyangsatudiantaranya,merupakanwargawilayahMusi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan . Kasus tersebut, merupakan kasus pertama pasien positif Covid-19 di Musi Banyuasin (MUBA) yang baru diketahui pada 15 April lalu, setelah korban dinyatakan baru pulang dari Prabumulih untuk melayat, padahal Prabumulih merupakan wilayah yang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19.

Bisadikatakan,kasuspertamapositifCovid-19diMUBAadalahkasuskecolongan,karena pada Selasa, 17 Maret lalu, bupati Musi Banyuasin (MUBA) Dr. Dodi Reza Alex Noerdin,sudah mengambil langkah pertama dengan mengeluarkan surat edaran resmi untuk meliburkan peserta didik jenjang SD-SMP sederajat. Kemudian, para kepala sekolah serta dewan guru juga diminta untuk menghimbau orangtua/wali murid agar tidak mengajak anak-anaknya keluar kota, guna menghindari dampak negative penyebaran virus Covid-19.

Tindakan yang dikatakan cepat dan tanggap, dikeluarkan oleh pemerintah bahkan jauh sebelum kasus pertama positif Covid-19 di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) di umumkan, yakni pada 24 Maret lalu. Selain itu, pada 1 April, Pemkab MUBA di Sumatera Selatan, mempertketat pintu masuk dari dan ke MUBA, yang dianggap merupakan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Covid-19 di wilayah MUBA. Bupati MUBA juga menghimbau agar seluruh masyarakat mengurangi aktivitas diluar rumah, termasuk solat berjamaah dimasjid, menjaga kesehatan diri, dengan memperkuat daya tahan tubuh dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Sayangnya, masih ada warga nakal yang melanggar himbauan tersebut. Bahkanhimbauan untuk melakukan solat dirumah saja, dianggap tidak baik oleh sebagian jamaah, karena dianggap menduakan Tuhan sebagai sumber ketakutam Dunia. Lalu, berdosakah bila meninggal dalam keadaan yang menularkan penyakit? Semua memang tergantung dari apa yang dijatuhkan Yang MahaKuasauntukkita,hidupdanmati,memangtidakadayangbisamenentukan,termasukVirus covid-19 ini sekalipun. Namun, menjaga keamanan dan kedamaian bersama bukankah termasuk dari sebagian amal ibadah kitadidunia?

Ini bukan sepenuhnya membicarakan tentang kasus positif pertama di MUBA, termasuk menuliskan stigma buruk terhadap si pengidap Covid-19 ini, namun untuk mengedukasi masyarakat untuk membantu pemerintah mengatasi permasalahan Covid-19. Himbauan dari pemerintah jangan dianggap sekadar himbauan, beberapa media juga menjadikan kasus yang membuat Italia menjadi salah satu negara yang paling banyak terjangkit Covid-19, yakni tidak mendengarkan himbauan dari pemerintah dan merespon dengan sikap bodo amat, sebagai cerminan dari ketidakpatuhan masyarakat yang berakhir buruk bagi kelangsungan hidup.

Namun, ini juga bukan tentang Itali lagi, melainkan tentang sebagian masyarakat Indonesiayanglambatmeresponhimbauanpemerintahdenganbijak.Bukansekaliduakalimedia televisi memberitakan kalangan muda di Indonesia, yang masih ramai berkumpul di tengah keramaian tanpa menjaga jarak, lalu ada seorang pria yang saat ditegur oleh aparat untuk meninggalkan sebuah warnet, malah adu mulut dan menganggap bahwa himbauan tersebuthanya berlakuuntukanakkecilsaja.Lantas,apakahVirusCovid-19inimemilihtubuhseseorangsebagai mangsanya?Tentunyatidak.KasusCovid-19initidakmemandangusia,kayaataumiskin,bahkan pejabat atau orang biasa, karena semua bisa terjangkit tanpaterkecuali.

Bisa dibilang, seribu lebih kasus positiv Covid-19 di Indonesia masih belum sepenuhnya menyadarkanmasyarakat,karenaterbuktiresponyangdidapathanyalahsikapbodoamat.Padahal Covid-19 yang saat ini dinyatakan sebagai sebuah pandemi, tidak seharusnya direspon dengan sikapbodoamat,mengingatpenyebaranvirusiniterjadibegitucepatmelaluiberbagaicara,dikutip dari laman alodokter, seseorang dapat tertular Covid-19 melalui berbagai cara,yaitu:

Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita Covid-19 batu ataubersin

 Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah menyentuh benda yang terena cipratan ludah penderitaCovid-19

 KontakjarakdekatdenganpenderitaCovid-19,misalnyabersentuhanatauberjabattangan.

Untuk kasus di MUBA, bisa dijadikan pembelajaran bagi wilayah lainnya yang saat ini dinyatakan negative Covid-19. Kasus positif pertama Covid-19 di Muba ini, menjadi pembelajaran bahwa pentingnya mematuhi himbauan dari pemerintah demi kenyamanan bersama. Menghindari kontak jarak dekat dengan orang lain ditengah pandemic, hingga rajin cuci tangan merupakan metode atau langkah pertama untuk mengurangi dampak penyebaran Covid-19.

Penulis: Meli Andini – Mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang