Detak-Palembang.com PALEMBANG – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap lagi dua tersangka kasus suap enam belas proyek jalan menjerat Ahmad Yani, Bupati Muara Enim, Sumatera Selatan, yang telah nonaktif.

Aksi geruduk KPK baru hari ini Senin, (27/4) heboh. Ternyata dua tersangka dicokok KPK pada Minggu pagi, 26 April 2020 di Palembang.

Dua tersangka itu diduga Ketua DPRD Kabupaten Muara Enim Aries HB (AHB) dan mantan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim Ramlan Suryadi (RS).

Penangkapan itu pengembangan dari pengusutan Ahmad Yani, yang sudah lebih dahulu jadi tersangka.

“Penangkapan pukul 07.00 dan 08.30 WIB di rumah tersangka masing-masing di Kota Palembang,” kata Ketua KPK Firli Bahuri Senin,(274)

Menurut Firli, penangkapan dua tersangka itu berdasarkan hasil penyidikan dan setelah menemukan bukti yang cukup. Namun, Filri tidak menjelaskan lebih rinci dari unsur pidana yang ditemukan.

KPK sebelumnya menetapkan tiga tersangka. Pemberi suap Robi Okta Fahlefi, pemilik PT Enra Sari. Sedangkan penerimanya Bupati Muara Enim Ahmad Yani dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sekaligus Kepala Bidang Pembangunan Jalan Dinas PUPR Pekerjaan Umum dan Perubahan Rakyat Kabupaten Muara Enim Elfin Muhtar.

Robi telah dijatuhi vonis oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Palembang selama 3 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan.

Pada awal 2019, Dinas PUPR melaksanakan pengadaan pekerjaan fisik berupa pembangunan jalan untuk Tahun Anggaran 2019. Terdapat syarat pemberian “commitment fee” sebesar 10 persen dari nilai proyek agar bisa menang lelang.

KPK menemukan permintaan uang dari Bupati Muara Enim Ahmad Yani kepada para calon pemenang tender di Dinas PUPR Muara Enim.

Ahmad Yani pun diduga meminta kegiatan pengadaan dilakukan hanya satu pintu melalui Elfin Muhtar.

Robi bersedia memberikan “commitment fee” 10 persen sehingga mendapatkan 16 paket proyek jalan senilai total sekitar Rp 130 miliar.

Pada 31 Agustus 2019, Elfin meminta Robi menyiapkan uang pada 2 September 2019 dalam pecahan dolar sejumlah “lima kosong kosong”.

Pada 1 September 2019, Elfin berkomunikasi dengan Robi membicarakan kesiapan uang Rp 500 juta dalam bentuk dolar AS menjadi US35 ribu.

Tim KPK juga mengidentifikasi dugaan penerimaan sudah dilakukan sebelumnya sebesar Rp 13,4 miliar oleh Bupati Muara Enim Ahmad Yani untuk berbagai proyek di Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim.