Detak-Palembang.com PALEMBANG – Kerap emosional hingga melemparkan handphone (HP) ke arah istrinya Mursidi (37) akhirnya Sri Susanti (35) melaporkan suaminya ke kantor polisi dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Polrestabes Palembang Jumat,(13/12)

Kejadian bermula gara-gara tidak dipinjamkan ponsel, Mursidi warga Jalan Pangeran Ratu, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring melemparkan HP ke arah sang istri pada hari Kamis (12/12) sekitar pukul 11.00 WIB. akibatnya korban mengalami luka lecet di kening.

Dihadapan polisi Sri bercerita terlapor hendak meminjam ponsel miliknya tapi tidak diberikan, sehingga terjadilah cekcok mulut antara korban dan pelaku di dalam rumah tersebut. “Waktu itu saya sedang main ponsel, lalu datang dia ingin meminjam ponsel saya tapi tidak saya pinjamkan. Kemudian kami cekcok mulut pak,” ujarnya, Jumat (13/12).

Setelah itu, terlapor menarik tangan korban dan mendorong korban hingga terjatuh. “Pas saya terjatuh itulah dia melempar ponsel saya ke muka sehingga mengenai jidat saya dan akibatnya mengalami luka lecet,” katanya.

Tidak hanya itu, terlapor terpancing emosinya lantaran korban secara diam-diam mengajukan surat cerai ke pengadilan agama yang ketahuan oleh terlapor. “Saya memang ingin cerai tapi dia tidak mau menceraikan saya,” ungkapnya.

Dirinya menuturkan, mengajukan surat cerai ke agama secara diam-diam lantaran tidak kuat dengan tingkah laku sang suami, apalagi terlapor pernah ketahuan selingkuh dengan jalan berduaan dengan wanita lain.

“Mungkin masalah itulah dia melempar ponsel, ditambah saya tidak meminjamkannya ponsel saya,” jelasnya kepada petugas piket Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Kepolisian Resor Besar Kota (Polrestabes) Palembang.

Kasat Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Palembang, Kompol Yon Edi Winara melalui Kepala SPKT Polrestabes Palembang, AKP Heri membenarkan adanya laporan terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami korban.

“Laporan sudah kita terima dan akan ditindaklanjuti oleh unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), sementara untuk pelakunya sendiri akan dikenakan tindak pidana undang-undang (UU) nomor 35 tahun 2004,”pungkasnya