Detak-Palembang.com LAHAT – Nasib nahas menimpa Suhadi (50) petani warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Sumsel, ia ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan, Minggu (22/12). Suhadi yang menjadi korban keenam serangan Harimau Sumatera di wilayah Pagaralam dan kabupaten Lahat, Sumatera Selatan dalam waktu satu bulan ini.

Jenazah korban ditemukan oleh pihak keluarga di kebun miliknya yang berjarak dua kilometer dari pemukiman warga areal Lekung Benuang, Desa Pajar Bulan, Kecamatan Muara Ulur, Kabupaten Lahat. 

Saat ditemukan, jenazah sudah dalam bentuk potongan tubuh, ungkap Sekretaris Desa Pajar Bulan Yong Liza. Bagian tubuh korban yang ditemukan dievakuasi oleh warga setempat dan diserahkan kepada kepolisian untuk keperluan otopsi.

“Kejadiannya belum tahu pasti kapan karena korban ini sudah satu minggu menginap di kebun. Saat ditemukan jenazah sudah busuk, perkiraan sudah satu-dua hari meninggalnya. Belum bisa dipastikan meninggalnya itu kenapa, tapi kuat dugaan diserang harimau,” ujar Yong, Minggu (22/12).

Dia mengatakan, korban merupakan petani kopi dan durian yang tengah menjaga hasil bercocoktanamnya. Kebiasaan bermalam di kebun hingga berhari-hari dilakukan dia dan warga lain, apalagi petani durian, karena takut hasil perkebunan mereka dimakan hewan lain seperti monyet.

Sejak tiga kejadian yang merenggut korban jiwa, Bupati Lahat serta pemerintah desa telah mengimbau kepada warga untuk menghentikan aktivitas di kebun. Namun, imbauan itu tak bisa sepenuhnya dijalankan masyarakat.  Pasalnya, mereka tidak memiliki pemasukan lain selain dari berkebun.

Meskipun imbauan pelarangan aktivitas di kawasan yang dekat dengan habitat harimau telah dilakukan mulai dari jajaran bupati, camat, hingga ke ketua adat, namun masyarakat masih datang ke kebun karena untuk mencari nafkah.

“Kejadiannya itu di hutan rakyat, bukan hutan lindung. Dari zaman nenek moyang sudah ada tanam-tanaman. Sudah diimbau tapi namanya warga mencari nafkah, kalau tidak ditunggui durian matang itu habis oleh kera, oleh monyet,” kata dia.

Pihaknya pun mengimbau kepada warga yang harus beraktivitas di kebun setidaknya ditemani oleh dua orang rekan. Meski lokasi kebun korban diketahui dekat dengan kebun warga lainnya, namun karena cuaca yang buruk dan derasnya hujan menyebabkan korban beraktivitas sendirian di kawasan tersebut.

Dia berharap pemerintah daerah mengambil tindakan nyata agar masyarakat yang berprofesi sebagai petani di daerah tersebut bisa mencari nafkah dengan aman dan tenteram, tidak diserang oleh binatang buas.

“Benar harimau dilindungi, tapi kalau sudah makan korban lebih baik kita musnahkan. Pemerintah daerah dan pusat kami mohon yang berwenang sepeti BKSDA kira-kira dapat menerjunkan tim pencari harimau tersebut,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel Martialis Puspito membenarkan pihaknya mendapatkan laporan ada serangan harimau susulan. Namun polisi belum mendapatkan laporan lebih detail karena petugas masih melakukan pengecekan di lapangan.

Senada, Kapolres Lahat Ajun Komisaris Besar Irwansyah pun mengaku sudah menerjunkan petugas untuk melakukan tindak lanjut dari laporan masyarakat tersebut.

“Kapolsek dan anggota sedang cek info tersebut. Tapi hujan sangat lebat sehingga menyulitkan petugas untuk ke lapangan dan melakukan olah TKP,” ujar dia.