#Anggarkan Dana Rp145 Miliar

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Di sela-sela acara Sumpah Profesi dan Pelatihan Kompetensi Ahli Gizi “Kredensial dan NCP Basic” 12-14 September di S-One Hotel Palembang, Kamis (12/22) Gubernur Sumsel H.Herman Deru memastikan dirinya serius menangani masalah stunting di Sumsel.

Tak tanggung-tanggung, sebagai upayanya menekan bahkan menghapus stunting di Sumsel Ia bahkan sudah menganggarkan dana hingga Rp145 miliar.  

“Stunting ini bukan soal gizi saja tapi kesadaran mereka mengolah gizi karena banyak juga orang yang mampu dan mereka makan daging terus tiap hari kan tidak sehat juga. Artinya ini membutuhkan pengetahuan. Dan masalah stunting ini butuh peran semua pihak bukan hanya ahli gizi, Dinkes tapi PU juga karena memerangi stunting ini akan kita mulai dari penyediaan sanitasi yang baik,” ujarnya.

Menurut HD kasihan sekali jika generasi mendatang masih harus merasakan menderita stunting. Hal ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinkes saja tapi juga Diskominfo, Dinas PU dan lainnya. Bagi HD tak perlu membangun sesuatu yang belum jelas manfaatnya bagi masyarakat jika pembangunan fisik masyarakat itu sendiri belum maksimal.

Ditanya soal penyebab utama stunting Sumsel HD mengungkapkan bahwa penyebab utama stunting adalah pemenuhan gizi. Hal ini diperparah jika seorang ibu hamil tidak memiliki pengetahuan memadai soal asupan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anaknya.

“Jadi pengetahuan si ibu juga penting. Makanya saya minta di kelurahan-kelurahan dan desa di Kaur Umum nya kalau bisa ada kerjasama dengan ahli gizi. Biar sosialisasi ini bisa terus digencarkan,” jelasnya.

Gizi itu lanjut HD ibaratnya magma dalam swbuah gunung. Dimana jika magma itu tersumbat maka akan berdampak  luas terhadap kesehatan fisik dan psikis. Hanya saja sayangnya permasalahan gizi sejauh ini masih dianggap biasa bahkan menjadi bahan guyonan. Sementara ahli gizi baru dicari-cari jika permasalahan stunting mencuat ke permukaan.

“Stunting adalah isu paling ditakuti di dunia. Kalau ada permasalahan baru orang cari ahli gizi kenapa? Karena dengan stunting akan tersimpul  bahwa negara tersebut tidak perhatian. Makanya kita harys paham gizi dengan bimbingan tenaga ahli gizi bukan baru peduli saat sudah sakit,” jelasnya.

HD mengatakan, akar masalahnya penyebab adanya stunting ini bukan karena masalah mampu dan tidak mampu. Tapi kesadaran masyarakat bahwa asupan bergizi tidak harus mahal. ” Memang tempe bergizi tapi ya jangan mendoaan lagi, mendoan lagi. Tahu lagi, tahu lagi. Tapi bagaimana ini diolah jadi makanan yang enak dan bervariasi biar anak-anak bersemangat makannya,” kata HD.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel Dra Lesty Nurainy Apt. M.Kes mengungkapkan bahwa penyebab utama masalah stunting adalah status kesehatan ibu dan asupan gizi. Dimana status kesehatan ibu tersebut dipengaruhi beberapa hal berupa pelayanan kesehatan, asupan dan yang paling penting juga adalah masalah sanitasi. 

“Kalau khusus untuk masalah gizi itu tindakan yang kita ambil adalah memperbaiki keseluruhan baik sanitasi ketahanan pangan, air bersihnya kemudian pelayanan kesehatannya supaya masyarakat bisa menjangkau pelayanan kesehatan,” jelas Lesty.

Saat ini kata Lesty, angka stunting Sumsel masih di bawa angka nasional untuk Bayi Dua Tahun sebesar 29,8% dan Balita 31,7%.

Sebanyak 370 orang peserta hadir dalam kegiatan tersebut seperti utusan dari Jakarta, Yogyakarta, Merauke, Riau, Jambi dan 17 kab/kota se Sumsel.

Hadir juga Ketua DPD Pusat Persatuan Ahli Gizi yang diwakili Assesor Nasional Kompetensi Ahli Gizi, Meylina Djafar serta Direktur Poltekes Kemeneks RI Provinsi Sumsel diwakili Sekretaris Jrisan Gizi Poltekes Sartono.