Detak-Palembang.com – Sinyal pemindahan ibu kota semakin kuat diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo. Pada sidang tahunan MPR 16 Agustus 2019, presiden meminta izin untuk memindahkan ibu kota Indonesia ke Pulau Kalimantan. Bahkan di akun twitter milik Presiden @jokowi, pada 7 November beliau  memberikan clue yang semakin mengerucut bahwa lokasi ibu kota baru yang ideal yakni di Kalimantan Timur. Pemindahan akan dilaksanakan secara bertahap dan ditargetkan secara fisik pada tahun 2024. Sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) digadang-gadangkan sebagai lokasi ibu kota negara pengganti DKI Jakarta. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) terus melakukan kajian terhadap wilayah calon ibu kota RI. Pemindahan ibu kota diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memacu pemerataan dan keadilan ekonomi di luar Jawa. 

Untuk menentukan lokasi calon ibu kota yang baru, tentunya wilayah yang bersangkutan mempunyai kriteria dan potensi yang layak sehingga dipilih sebagai ibu kota negara RI. Sebenarnya apa saja potensi di Kabupaten Kukar dan PPU sehingga dijadikan pertimbangan sebagai ibu kota negara yang baru? 

Kaltim merupakan provinsi penyumbang PDRB yang terbilang cukup tinggi. Struktur perekonomian Kaltim tahun 2018 didominasi oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Berdasarkan data BPS, pada kabupaten Kukar maupun PPU, sektor yang berpengaruh tinggi terhadap PDRB di tahun 2018 yakni pertambangan dan penggalian yang kemudian disusul oleh pertanian. Pada tahun 2018, sektor pertambangan dan penggalian di Kukar memiliki peranan sebesar 64,91% dan di PPU sebesar 30,88%. Sedangkan sektor pertanian di Kukar berperan sebesar 12,98% dan di PPU berperan sebesar 19,96%. Angka-angka tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan sektor lain yang masih berperan di bawah 5% seperti sektor pengadaan listrik dan gas yang hanya berkontribusi 0,04% oleh Kukar dan 0,07% oleh PPU. 

Provinsi Kaltim sebagai penghasil migas menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah Riau. Pasokan migas yang paling deras berasal dari wilayah yang akan dijadikan sebagai ibu kota RI yakni Kabupaten Kukar. Berdasarkan data BPS tahun 2018, 23.717,95 ribu barrel minyak bumi yang dihasilkan di Kaltim, sekitar 59% dihasilkan dari kabupaten Kukar. Untuk gas bumi yang dihasilkan dari Kaltim yaitu 296.832,49 ribu MMBTU, sekitar 47% dihasilkan dari Kukar. 

Sumber daya alam di Kukar smelimpah ruah tapi sayangnya masih bergerak dalam bentuk hulu atau mentah. Masih sedikit pula PDRB yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, sementara sisanya dinikmati entitas bisnis atau investor asing. Bilamana bisa mandiri dan beralih dari hulu atau comparative advantage menjadi industri hilir atau competitive advantage, maka hal ini dapat lebih meningkatkan pendapatan negara secara signifikan.

Lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbanyak di Kaltim adalah pertanian. Berdasarkan data BPS tahun 2018, terdapat 84.188 petani di Kukar dan 25.194 petani di PPU. Masing-masing petani di Kukar rata-rata memiliki luas lahan pertanian sebesar 7.715,94 m2 sedangkan di PPU bisa mencapai hingga 12.245,48 m2. Produktivitas padi tertinggi di Kaltim berasal dari Kabupaten Kukar sebesar 48,17 kuintal/hektar kemudian disusul oleh PPU sebesar 33,12 kuintal/hektar.

Baik Kukar maupun PPU juga merupakan kawasan penyangga maupun lumbung pangan di Kaltim. Dengan dipindahnya ibu kota, semoga para petani Kukar dan PPU bisa mempertahankan lahan mereka. Diharapkan juga pada pemerintah supaya memberi perhatian serius untuk tetap melindungi kesejahteraan, pendapatan, dan terus meningkatkan kualitas pertanian di wilayah ini. 

Selain itu, potensi perkebunan juga cukup menjanjikan di wilayah ini terutama komoditas kelapa sawit. Kaltim merupakan wilayah produsen minyak sawit terbesar di Pulau Kalimantan. Sentra tanaman kelapa sawit berada di Kabupaten Kutai Timur yang kemudian disusul oleh Kukar. Kukar memiliki lahan sawit seluas 217.285 hektar dan mampu menghasilkan 2.977.713 ton kelapa sawit. Sedangkan PPU memiliki 49.451 hektar dan mampu menghasilkan kelapa sawit sebanyak 430.810 ton. 

Ternyata limbah sawit pun juga ada manfaatnya. Saat ini penggunaan limbah sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik sudah dipelopori oleh perusahaan sawit di Kukar. Sumber energi listrik alternatif ini membantu mengatasi masalah kelistrikan di daerah setempat. Jika ibu kota negara dipindahkan ke wilayah ini, diharapkan pengembangan industri baru yang lainnya berbasis sumber daya alam bisa semakin ditingkatkan.

Seperti yang kita ketahui bahwa DKI Jakarta yaitu ibu kota RI yang sekarang merupakan pusat bisnis, keuangan, perdagangan, jasa, dsbnya yang terbesar di Indonesia. Diharapkan sektor-sektor ekonomi selain pertambangan dan pertanian di Kabupaten Kukar dan PPU dapat semakin berkembang seperti di DKI Jakarta. Selain itu juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat hingga ke usaha-usaha kecil. 

Penulis : Arianti Nur Faizah (Politeknik Statistika STIS)