Detak-Palembang.com PALEMBANG – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan sebanyak sembilan orang saksi dalam kasus suap proyek yang menjerat Bupati Muara Enim Ahmad Yani di Pengadilan Negeri Kelas 1A Palembang, Selasa (26/11).

Ke sembilan orang tersebut dihadirkan, sebagai saksi untuk terdakwa Robi Okta Fahlevi selaku pemilik PT Paser Beton yang memenangkan tander proyek pembangunan jalan di Muara Enim.

Adapun ke sembilan saksi tersebut adalah, Edi Rahmadi Manajer PT Paser Beton, Edi Yansah PNS Kasubag di Dinas PUPR Muara Enim, Jenever Sapriati rekan kerja terdakwa, Santi Inarma, Uda Supriadi karyawan terdakwa Robi, Ahmad Dani Budiman Hambali wiraswasta, Budi Wahyudi karyawan BUMN dan terakhir adalah Devi Kristia.

Manajer PT Paser Beton Edi Rahmadi dalam kesaksiannya menyatakan, ia bekerja dengan Robi selama satu tahun.

Selama bekerja, Edi mengaku jika Robi memang sering mendapatkan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim.

Ia pun tak menyangkal, kalau terdakwa Robi memberikan fee kepada Bupati Muara Enim dan sejumlah pejabat di Dinas PUPR sebagai upaya mendapatkan proyek.

“Sebelumnya (OTT) juga pernah pegang proyek di dinas PUPR,”kata Edi, menjawab pertanyaan hakim.

Edi menerangkan, ia pernah menemani Robi untuk menghadap Bupati Ahmad Yani di kediaman pribadi di Jalan Inspektur Marzuki, Pakjo Palembang pada malam hari sebelum terkena OTT.

“Saya kurang tahu, Robi memberikan uang atau tidak kepada Bupati waktu di rumah pribadi. Karena saya di dalam mobil,”ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Muara Enim Ahmad Yani menerima suap Rp 12,9 miliar dari Robi Okta Fahlevi selaku pemilik PT INDO Paser Beton untuk mendapatkan 16 paket proyek pembangunan jalan.

Perusahaan yang dinaungi oleh Robi, memiliki beberapa anak perusahaan lain, salah satunya adalah PT Enra Sari.

Kasus ini pun mencuat, setelah Ahmad Yani bersama Robi serta Elfin Muchtar Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan PPK Dinas PUPR terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Senin (2/9) lalu.