Detak-Palembang.com – Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Hasil alamnya harus dikelola untuk kemakmuran rakyat secara merata, bahkan hasilnya harus diekspor guna memenuhi kebutuhan pasar dunia. Salah satu provinsi yg berkontribusi dalam perkembangan ekspor impor di Indonesia adalah provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan data kementrian perdagangan perihal perkembangan ekspor nonmigas periode 2014-2019, Sumsel menempati posisi ke-11 dengan peran sebesar 2.6% dari keseluruhan provinsi di Indonesia .

Sumatera Selatan sendiri merupakan provinsi terluas ke-5 di Indonesia, yang juga merupakan salah satu provinsi penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia. Minyak mentah yang dihasilkan dapat diolah menjadi produk lain seperti BBM, residu minyak, dll. Hasil minyak Sumsel sendiri telah diekspor ke negara-negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. 

Volume ekspor migas pada tahun 2018 meningkat sebesar 19.31%. Peningkatan ini disebabkan oleh harga minyak dunia yang mulai membaik serta produksi minyak mentah Sumsel yang mulai meningkat dikarenakan produksi sumur minyak di Sumsel khususnya pada block Corridor yang dioperatori CanocoPhilips mampu bekerja secara optimal sehingga berhasil mencapai target.

Berdasarkan data yang diterbitkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitannya Statistik Perdagangan Luar Negeri Ekspor Provinsi Sumatera Selatan tahun 2018. Perkembangan ekspor migas dan nonmigas Sumatera Selatan selama 20 tahun terakhir (1997 – 2018) cenderung naik-turun. Dalam kurun waktu 2012 – 2016 ekspor Sumsel mengalami penurunan rata-rata 17% setiap tahunnya. Namun setelah mengalami penurunan, nilai ekspor tahun 2017 dan 2018 kembali meningkat dikarenakan harga komoditas utama seperti karet dan kelapa sawit mulai membaik di pasar internasional, serta adanya komoditas baru yang diekspor yaitu bubur kayu/pulp.

Peningkatan ekspor tahun 2018 sendiri disebabkan karena adanya peningkatan pada sektor migas dan nonmigas. Sektor migas mengalami peningkatan sebesar 58.15% dari 232.19 juta dolar AS pada tahun 2017 menjadi 367.21 juta dolar AS pada tahun 2018. Begitu pun nilai ekspor pada sektor nonmigas mengalami penigkatan sebesar 9.49%, dari 3075.5 juta dolar AS pada tahun 2017 menjadi 3367.33 juta dolar AS pada tahun 2018.

Sama halnya dengan aktifitas ekspor, nilai impor Sumatera Selatan selama tahun 2018 juga mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yaitu 72,79 persen dari 431,00 juta dolar AS pada tahun 2017 menjadi 744,73 juta dolar AS di tahun 2018. Naiknya nilai impor pada tahun 2018 disebabkan oleh meningkatnya impor sektor nonmigas sebesar 79,88 persen sedangkan impor migas turun sebesar 10,00 persen.

Surplus perdagangan internasional Sumatera Selatan dengan empat negara dengan nilai surplus terbesar selama tahun 2017 dan 2018 yaitu Tiongkok, Malaysia, Amerika Serikat, dan India. Untuk tahun 2018, surplus terbesar berasal dari neraca perdagangan dengan mitra dagang Tiongkok sebesar 1.114,45 juta dolar AS meningkat 32,54 persen dibandingkan tahun 2017 yaitu 840,83 juta dolar. Sedangkan, defisit perdagangan internasional Sumatera Selatan dengan 4 negara dengan nilai defisit terbesar selama tahun 2017 dan 2018. Empat negara dengan defisit terbesar pada tahun 2018 yaitu Italia, Swedia, Rusia, dan Belarusia. Defisit perdagangan dengan dengan keempat negara tersebut mengalami peningkatan masing-masing 107,99 Juta US$, 25,54 juta dolar AS, 14,54 juta dolar AS dan 8,81 juta dolar AS.

Selain hal diatas, Sumsel yang kaya akan karet  ternyata dapat berkontribusi dalam ekspor karet Indonesia ke luar negeri. Saat ini, Indonesia menempati posisi ke-2 sebagai negara pengekspor karet terbesar di dunia. Hal tersebut semakin membuat Sumatera Selatan dipandang di “Mata Dunia”. Karena itu juga masyarakat Sumatera Selatan seharusnya dapat memanfaaatkan kesempatan ini, agar dapat menjaga kelestarian sumber daya alam yang tersedia di provinsi tersebut.