Detak-Palembang.com – Kopi adalah salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian Indonesia, karena merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia sebagai penghasil devisa negara dibidang komoditi agrikultur terbesar ke-empat setelah minyak sawit, karet dan kakao. 

Selain peluang ekspor yang terbuka, pasar kopi di Indonesia masih sangat besar untuk dikembangkan. 

Indonesia memiliki beberapa jenis kopi yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. 

Ada beberapa jenis kopi khusus di Indonesia yang menjadi primadona di dalam maupun luar negeri yaitu jenis kopi Luwak (jenis kopi yang terkenal paling mahal di dunia), kopi Toraja, kopi Aceh dan kopi Mandailing. 

Perkembangan produksi kopi di Indonesia tidak lepas dari luas lahan perkebunan yang ada di Indonesia.

Badan Pusat Statistik membedakan perkebunan menurut jenis pengusahaannya menjadi dua yaitu Perkebunan Besar (PB) dan Perkebunana Rakyat (PR). Perkebunan Besar (PB) terdiri dari Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Besar Nasional (PBN). 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan luas lahan kopi di Indonesia mengalami perubahan setiap tahunnya. 

Pada tahun 2015 luas lahan PBN kopi di Indonesia tercatat seluas 22,366 ribu hektar, luas lahan ini tidak berubah pada tahun 2016. 

Kemudian pada tahun 2017 luas lahan PBN mengalami peningkatan sebesar 1,15% dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 26,634 ribu hektar. 

Sedangkan luas lahan kopi PBS pada tahun 2015 mencapai 24,39 ribu hektar dan tidak mengalami peningkatan maupun penurunan pada tahun 2016, kemudian pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 4,94% yaitu menjadi 23,186 ribu hektar.

Berdasarkan data Dirjen Perkebunan, Kementrian Pertanian pada tahun 2015 luas lahan yang diusahakan oleh PR yaitu seluas 1,183 juta hektar kemudian mengalami peningkatan di tahun 2016 sebesar 1,34% menjadi 1,199 juta hektar,kemudian pada tahun 2017 mengalami peningkatan lagi menjadi 1,205 juta hektar. 

Berdasarkan data yang disajikan oleh BPS dan Dirjen Perkebunan, Kementrian Pertanian luas lahan kopi di Indonesia sangat didominasi oleh Perkebunan Rakyat yaitu sebesar 95,46% kemudian disusul oleh Perkebunan Besar Swasta yaitu sebesar 2,37% dan yang paling terakhir yaitu perkebunan Besar Nasional yaitu sebesar 2,17%. 

Hal ini mengindikasikan bahwa sebagia besar luas lahan kopi di Indonesia masih dikelola oleh rakyat, sedangkan Perusahaan Nasional maupun Swasta hanya sedikit saja yang mengelola lahan perkenbunan kopi. 

Perkembangan produksi kopi di Indonesia mengalami pasang surut di tiap tahunnya. Hal ini terjadi karena adanya fluktuatif produksi kopi pada Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat.

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statsitik, pada tahun 2015 produksi kopi yang dihasilkan oleh Perkebunan Besar yaitu sebesar 36,98 ribu ton.

Jumlah produksi ini terus mengalami penurunan pada tahun selanjutnya, yaitu jumlahnya turun menjadi 31,87 ribu ton atau turun sebsar 13,84%. 

Sedangkan pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 4,95% menjadi 30,29 ribu ton. 

Jumlah produksi yang terjadi di Perkebunan Besar sangat bertolak belakang dengan jumlah produksi pada Perkebunan Rakyat. Jika pada Perkebunan Besar jumlah produksinya mengalami penurunan sedangkan pada Perkebunan Rakyat jumlah Produksinya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2015 jumlah produksi kopi pada Pekebunan Rakyat yaitu sebsar 602,4 ribu ton. Kemudian mengalami peningkatan apda tahun 2016 yaitu menjadi 632 ribu ton dan mengalami peningkatan lagi pada tahun 2017 yaitu menjadi 636,7 ribu ton. 

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dari tahun ke tahun Produksi kopi yang dikelola oleh Perusahaan baik Nasional maupun Swasta terus mengalami penurunan sedangkan produksi kopi yang dikelola oleh rakyat biasa dengan total perkebunan yang dimiliki oleh setiap rakyat hanya 1 – 2 hektar saja terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. 

Hal ini mengindikasikan bahwa antuasme masyarakat dalam membudidayakan kopi di Indonesia terus mengalami peningkatan sedangkan antusiasme perusahaan untuk mengelola dan memproduksi dari tahn ke tahun mengalami penurunan. 

Hal ini sangat berdampak bagi kualitas produksi kopi yang dihasilkan di Indonesai, karena secara umum Perkebunan Rakyat yang notabennya menjadi pemasok produksi kopi terbesar di Indonesia hanya menggunakan alat sederhana dan seadaanya saja, sehingga kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan oleh Perkebunan Rakyat menjadi kurang maksimal. 

Sedangkan Perusahaan yang mengelola kopi di Indonesia hanya mampu memberikan kontribusi sedikit bagi produksi kopi di Indonesia, padahal peralatan yang digunakan oleh perusahaan tersebut notabennya lebih canggih dan lebih moderen dibanding peralatan yang dimiliki oleh rakyat.

Dalam hal ini poin pentingnya yaitu ketika Perkebunan Rakyat yang notabennya menjadi kontributor terbsar bagi produksi kopi di Indonesia difasilitasi fasilitas yang lebih moderen dan lebih basik serta diberi arahan yang lebih baik bagaimana cara mengolah tanaman kopi yang baik dan benar, maka produksi kopi yang ada di Indonesia akan mengalami lonjakan yang sangat tajam. 

Ketika hal itu dapat ditangani dan ditanggapi dengan serius maka bukan tidak mungkin Indonesia mampu menjadi pengekspor kopi nomer wahid di Dunia mengingat ada beberapa jenis kopi khusus yang ada di Indonesia seperti kopi Luwak yang tentunya menjadi primadona di dalam maupun Luar Negeri. Jika hal ini berjalan dengan baik maka devisa negara yang dihasilkan dari ekspor kopi akan semakin bertambah.

Penulis : Wahyu Winarto (Mahasiswa Politeknik Statistika STIS)