Detak-Palembang.com JAKARTA– Mantan Perdana Menteri Australia ke-29, Malcolm Turnbull, mengunjungi kantor Bukalapak untuk mengenal lebih jauh berbagai inovasi Bukalapak yang berhasil memberdayakan usaha kecil Indonesia, Senin (30/9)

Bukalapak menjadi salah satu tujuan kunjungan Turnbull di Indonesia kali ini dalam rangka mempelajari lebih jauh mengenai peran penting Bukalapak dalam memperkokoh perekonomian digital melalui Mitra Bukalapak dan pasar daringnya, serta mempererat hubungan antara kedua negara dengan pertukaran ilmu dan pengalaman. UMKM diyakini sebagai kunci pertumbuhan GDP di Indonesia, sehingga perlu terus dikembangkan.

Dalam sambutannya, Turnbull yang berlatar belakang seorang negarawan, investment banker, wartawan, dan pengacara menyampaikan, “Kolaborasi di bidang teknologi digital merupakan salah satu prioritas hubungan antara Australia dan Indonesia, dan saya sangat terkesan dengan hasil karya tim Bukalapak yang muda dan brilian. Presiden Joko Widodo bertekad menempatkan Indonesia dalam posisi terdepan di perekonomian digital dan saya percaya Bukalapak memiliki peran besar untuk merealisasikannya.”

Turnbull disambut oleh Willix Halim, Chief Operating Officer Bukalapak, Teddy Oetomo, Chief Strategy Officer Bukalapak, serta beberapa karyawan Bukalapak yang pernah menempuh studi di Australia. 

Willix Halim menjelaskan bahwa sejak didirikan tahun 2010, Bukalapak terus berupaya mewujudkan visinya untuk memberdayakan Indonesia melalui teknologi. 

“Kami memilih untuk fokus menciptakan berbagai produk teknologi dan program inovatif yang relevan untuk masyarakat umum (mass market) di Indonesia,” terang Willix kepada Turnbull.

Latar Belakang Turnbull

Perdana Menteri Australia yang ke-29 (2015-2018). Menempuh karir internasional di bidang hukum, bisnis, dan media sebelum berkiprah di bidang politik pada usia 50 tahun. 

Sebagai Perdana Menteri, Turnbull mereformasi pajak penghasilan, pendidikan, dan sistem pengasuhan anak di Australia, mengatur penerapan pernikahan sesama jenis, serta mengumumkan pembangunan skema pemompaan air terbesar di wilayah selatan dunia. 

Secara global, Turnbull memainkan peran penting dalam memulihkan Kerjasama Trans Pasifik atau Trans Pacific Partnership (TPP-11) setelah Amerika Serikat mengundurkan diri. Turnbull juga membuat perjanjian dengan Presiden Amerika Obama dan Trump untuk menerima para pengungsi yang berusaha masuk ke Australia secara ilegal menggunakan perahu. 

Saat menjadi pengacara, Turnbull berhasil membela mantan agen MI5 Peter Wright di dalam kasus “Spycatcher” melawan pemerintah Inggris sebelum terjun ke dunia bisnis di mana ia membangun karir yang cemerlang dengan Goldman Sachs dan meluncurkan sejumlah bisnis berbasis teknologi di Australia,

Turnbull juga pernah menerima beasiswa Rhodes dari Universitas Oxford.