Detak-Palembang.com PALEMBANG – Fetty Mardhiana adik kandung Aprianita (50) seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian PU Balai Besar Jalan yang dibunuh dan mayatnya di cor beton oleh Yudi Tama Redianto (41), menceritakan sebelum terjadinya pembunuhan.

Fetty Mardhiana, mengaku sempat berkomunikasi lewat telepon seluler. Saat itu korban menyampaikan ingin bercerita masalahnya, namun tak kesampaian.

“Pukul 19.00 WIB Yuk Nita menghubungi aku, bilang ada yang mau diceritakan ke aku,” terang Fetty di rumah duka di Jalan Angkatan 45 Palembang, Sabtu (26/10).

Dikatakan Fetty, saat berkomunikasi itu, ia mendengar ada suara beberapa pria. Diduga kuat saat itu sang kakak sudah berada di mobil bersama pelaku.

“Iya suara ramai di mobil, suara laki-laki. Mungkin takut didengar, ya sudah nanti dihubungi lagi dan telepon itu ditutup,” kata Fetty.

Mendengar nada sang kakak gelisah, ia pun coba menghubungi korban sekitar 15 menit kemudian. Tapi seluler korban sudah tidak lagi aktif dan tidak lagi bisa dihubungi.

“15 menit setelah itu aku coba hubungi lagi, udah tidak aktif. Dicoba terus dan memang nggak aktif lagi, aku panik ya. Sampai besoknya tidak ada kabar lagi,” kata Fetty berkaca-kaca.

Diakui Fetty, korban pernah mengajak dirinya bisnis jual-beli mobil. Tetapi ia mengingatkan untuk waspada terkait maraknya kasus penipuan.

Terakhir, korban diketahui tetap lanjut bisnis bersama Yudi. Tercatat dalam buku tabungan hampir Rp200 jutaan dana ditarik, termasuk dana pinjaman.

“Buku tabungan kalau dihitung hampir Rp200 juta ada ditarik bertahap. Mulai dari Rp100 juta, Rp45 juta, dan ada Rp50 juta. Itu ada uang pinjaman,” tegas Fetty.

Yudi merupakan salah satu pelaku yang ditangkap bersama Iyas. Yudi ditangkap dan disebut sebagai otak pelaku dalam kasus tersebut.

Aprianita dimakamkan setelah dokter forensik RS Bhayangkara melakukan autopsi. Nita ditemukan tewas dicor di TPU Kandang Kawat, Palembang pada Jumat (25/10) sore.

Sebelumnya, Yudi, otak pelaku pembunuhan mengaku tega menghabisi nyawa korban karena masalah utang.

“Masalah utang, saya ada utang Rp100 juta. Utang itu bisnis jual-beli mobil dan kendaraannya tidak ada,” ujar Yudi ketika ditemui di Subdit Jatanras Polda Sumsel, Jumat (25/10/2019).

Karena terus ditagih, pelaku kemudian panik. Ia berdiskusi dengan temannya hingga direncanakanlah pembunuhan pada 9 Oktober lalu.

“Tanggal 9 itulah dia nanya soal uang, karena nggak ada saya diskusi sama Novi. Malam itu kami rencanakan dia (korban) dibunuh,” katanya.

Aksi pembunuhan sendiri terjadi pada malam hari sekitar pukul 20.30 WIB. Setelah tewas, korban pun langsung dikubur dan dicor semen. Yudi melaksanakan aksinya dibantu Novi dan Iyas.

“Saya bawa mobil, Novi, Amir dan Iyas yang jerat pakai tali dalam mobil. Setelah itu dikubur di Kandang Kawat, aku tidak ikut ngubur,” kata Yudi.

Versi Yudi, aksi pembunuhan ini dilakukan empat orang, yaitu Yudi, Novi, Amir, dan Iyas. Dari empat orang itu, Yudi dan Iyas sudah diciduk sedangkan Novi dan Amir masih diburu.

Keempat orang itu punya peran dalam aksi ini, sedangkan Yudi merupakan otak pembunuhan.

Aprianita dilaporkan hilang tiga pekan lalu pada 9 Oktober 2019. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mengamankan dua orang yang kini sudah ditahan.

Setelah diinterograsi, akhirnya terkuak kasus pembunuhan sadis ini. Jasad Aprianita baru ditemukan pada Jumat (25/10) dalam kondisi sudah dicor semen di TPU Kandang Kawat.

Keluarga korban yang menyaksikan pembongkaran dan melihat Yudi datang terlihat histeris. Mereka mengaku apa yang dilakukan Yudi sangat kejam dan tak berperikemanusiaan.