Detak-Palembang.com HONG KONG – Memasuki bulan keempat demonstrasi yang terjadi di Hong Kong sejak pertengahan Juni 2019, di akhir pekan kemarin demonstrasi diwarnai aksi kekerasan saling serang antar demonstran dengan petugas kepolisian Hong Kong.

Baik demonstran maupun polisi, Minggu (15/9), tampak lebih agresif. Aksi massa demo yang semula menuntut penghapusan rancangan undang-undang (RUU) Ekstradisi, kini meluas menjadi tuntutan demokrasi.

Demonstran membakar pintu masuk ke stasiun kunci kereta api bawah tanah, Wan Chai, sedangkan kelompok lainnya melemparkan bom-bom molotov dan batu bata ke arah barikade polisi dan markas pemerintah pusat di kawasan Admiralty. Stasiun kereta api bawah tanah lain termasuk Tin Hau dan Causeway Bay juga rusak.

Polisi anti-huru hara membalasnya dengan memakai gas air mata, meriam air, pewarna biru, dan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan. Adegan kekerasan massa dan aparat itu telah mengganggu lalu lintas dan memicu penutupan sejumlah pusat perbelanjaan utama seperti Sogo di kawasan perbelanjaan Causeway Bay.

Di tempat terpisah, polisi membubarkan pertikaian antara demonstran dan warga berbaju putih yang menggunakan kursi dan payung sebagai senjatanya.

Polisi juga menangkap anggota parlemen oposisi. Kota mulai kembali menjadi normal pada Senin (16/9) pagi dengan dibuka kembali stasiun Wan Chai dan Admiralty.

Ratusan ribu orang yang turun ke jalanan pada Minggu, meneriakkan “Lima Tuntutan, Tidak Kurang Satu Pun” menunjukkan upaya pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mencabut RUU Ekstradisi tidak cukup mengakhiri adegan kekerasan yang saat ini terjadi dimana-mana di kota itu.

Aksi massa juga diperkirakan akan semakin intens menjelang tanggal 1 Oktober 2019 ketika Tiongkok merayakan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis.

“Momentum untuk aktivitas protes ini masih terus berlanjut. Kita minta lima tuntutan, tidak kurang satu pun,” ujar Peter (30).