Detak-Palembang.com BELU – Makan nasi berlauk seadanya dan makan singkong, sudah menjadi hal yang biasa bagi prajurit TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Hidup di tengah-tengah masyarakat yang penuh keterbatasan membuat para prajurit terbiasa menjalani berbagai peran.

Dari berladang untuk memenuhi kebutuhan pangan, mengobati orang sakit, bahkan mengajar harus mereka lakukan. Setidaknya, hal itu yang tengah dilakukan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL sektor timur Yonif Raider 142/Ksatria Jaya Kodam II/Swj di Kec. Tasi Feto Kab Belu, Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Saat ini Satgas Yonif Raider 142/KJ Kodam II/Swj tengah bertugas mengamankan daerah perbatasan di sektor timur Indonesia tersebut. Terdapat puluhan pos yang menjadi area tanggung jawab mereka disana. Setiap pos memiliki tanggung jawab terhadap wilayah di sekitar pos.

Jadi tidak mengherankan lagi apabila di daerah perbatasan terlihat orang berbaju loreng mengajar di ruang-ruang kelas. Para prajurit tersebut biasanya mengajar pelajaran umum. Saat mengajar, mereka juga akan menyampaikan soal Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air, agar anak-anak di wilayah perbatasan memiliki rasa nasionalisme.

Seperti yang dilakukan oleh beberapa anggota yang bertugas di Pos Motaain yang dipimpin oleh Serda Tri Taruna Sihombing dan beberapa orang anggotanya yaitu Pratu Ade Mandala P, Pratu Syarif Hidayat, dan Prada Budi, Senin (16/9/2019). Mereka secara bergiliran melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di salah satu sekolah yang berada di sekitaran Pos Penugasan yakni, di SD 1 Motaain Dusun Halimuti RT/RW 012/005 Desa Silawan Kec. Tasi Feto Kab Belu, Nusa tenggara Timur (NTT).

Yang menarik, salah satu prajurit yang mengajar di sekolah tersebut adalah Prada Budi. Dia merupakan salah satu prajurit TNI AD yang berasal dari asli Suku Anak Dalam (SAD) yang berada di Jambi, tepatnya Bukit Dua Belas Kec. Air Hitam Kab. Sarolangun Prov. Jambi.

Rasa bangga dan haru yang terlihat dari raut wajah Prada Budi yang mungkin masih mengingatkannya pada masa lalu yang sangat susah dari anak-anak yang berada diperbatasan RI-RDTL.

Pohon-pohon di hutan dan tikar menjadi ruang kelas untuk belajar dan menuntut ilmu. Walaupun dengan keadaan yang seperti itu tidak melunturkan niat dan usaha Prada Budi dalam mengapai cita-cita nya yang telah di impikan untuk menjadi seorang prajurit TNI-AD.

Budi berpesan kepada seluruh generasi muda penerus bangsa agar selalu gigih dan semangat untuk mewujudkan cita-cita yang telah diimpikan. Walaupun dia berasal dari Suku Anak Dalam (SAD) yang serba kekurangan tetapi tidak mengurungkan niat dan kemauannya untuk menggapai cita-cita yang telah di impikan yaitu menjadi seorang prajurit TNI-AD”.

Sementara itu, Nalia Belac (52) merupakan guru dan penanggung  jawab  sekolah mengucapkan banyak terima kasih kepada personel Satgas Yonif 142/KJ yang membantu kegiatan mengajar di SD 1 Motaain.

“Kami sangat senang dan sangat terbantu sekali dengan kedatangan bapak-bapak TNI untuk membantu kami dalam memberikan materi dan wawasan pengetahuan umum’’, ungkapnya.