Polda Sumsel saat gelar perkara kasus Karhutla Senin,(23/9)

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Aparat kepolisian Polda Sumatera Selatan (Sumsel) menahan Direktur Operasional PT Hutan Bumi Lestari (HBL), Alfaro Khadafi selaku Direktur Operasional PT. HBL dan melakukan penyegelan terhadap perusahaan.

Hal itu dilakukan polisi, dalam keterangannya menyebutkan bahwa PT HBL dianggap bertanggung jawab atau pelaku menyebabkan karhutla di Sumsel.

Namun sejauh ini Alfaro merupakan satu-satunya tersangka yang merupakan pihak perusahaan terkait karhutla yang terjadi di wilayah Sumsel dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur PT HBL yang beroperasi Dusun IV dan IX, Desa Muara Mendak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba dianggap bertanggung jawab karena kelalaian menyebabkan karhutla.

Harusnya perusahaan konsesi hutan produksi tersebut menyiapkan alat memadai serta personil yang cukup untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.

Namun nyatanya dari hasil penyelidikan, hanya ada enam orang sebagai petugas pemadaman dengan lahan seluas sekitar 2.800 hektar. Sehingga atas kelalaian tersebut ada seluas 1.475 hektar lahan konsesi yang terbakar.

Selain itu hasil penyelidikan kepolisian, pihak perusahaan juga menanami sawit di hutan produksi yang harusnya hanya pohon keras.

Hal itu disampaikan Wakapolda Sumsel, Brigjen Pol Rudi Setiawan saat gelar hasil penegakan hukum terkait karhutla di Sumsel di Mapolda Sumsel, Senin (23/9).

“Karena kelalaian, harusnya sudah menyiapkan alat memadai dan personil yang cukup, tapi hasil penyelidikan sangat kurang dan saat ini perusahaan sudah disegel, tidak beroperasi,” kata Brigjen Pol Rudi.

Atas perbuatannya, tersangka Alfaro dijerat Pasal 188 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kebakaran, Pasal 78 ayat 4 UU Nomor 41 tahun 1999 tentang kelalaian menyebabkan kebakaran hutan.

Serta Pasal 99 UU nomor 32 tahun 2009 tentang kelalaiannya menyebabkan baku mutu udara ambien atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda Rp3 miliar.

Sementara itu Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel Kombes Pol Zulkarnain memastikan bahwa pihaknya sangat serius menangani persoalan karhutla.

“Masyarakat jangan beranggapan bahwa setelah membakar dan menanam tidak kami selidiki. Di lahan yang terbakar akan kita pantau terus, sehingga siklus ini tidak berulang,” tandasnya.

Ditempat yang sama, tersangka Alfaro mengakui kelalaian pihaknya yang tak menyiapkan peralatan dan personil memadai hingga terjadi karhutla.

“Awalnya kebakaran di luar lahan perusahaan dan karena angin, api melompat ke area perusahaan,” ucapnya saat dihadirkan dalam gelar tersangka.