Detak-Palembang.com KEDIRI – Benda berwujud seperti tugu setinggi 1,4 meter itu, berada tepat ditengah perkebunan jagung milik warga Dusun Bioro, Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan. Jarak benda itu dengan lokasi situs Gentong Bioro, hanya berjarak sekitar 100 meter.

Danramil Kandangan Kapten Chb Mulyono bersama Cak Khoirul (MC kondang) dan M.Dardiri, keduanya warga setempat, (sabtu,29/9/2019) melakukan penelusuran dilokasi tersebut, guna mengetahui secara pasti keberadaan benda yang diyakini sebagai jam matahari.

Menurut M.Dardiri, hanya sebagian kecil warga setempat yang tahu, kalau benda yang terletak ditengah perkebunan jagung itu adalah benda kuno peninggalan leluhur. Bahkan, sebagian besar warga menganggapnya hanya sebagai batu biasa.

“Sebenarnya banyak yang tahu kalau disini ada batu ini, tapi jarang yang tahu kalau ini peninggalan leluhur, usianya sudah tua, mungkin ratusan tahun. Kalau yang tidak tahu, batu ini dianggap batu biasa,” ujarnya.

Sepintas, benda tersebut memang kurang menarik, namun setelah didekati, ada sesuatu yang unik. Benda ini terbuat dari batu andesit, dan bila dilihat kondisi batu itu, diperkirakan usianya sudah ratusan tahun. 

Ada 2 ukuran berbeda yang dipisahkan trap ditengahnya, dan satu trap terlihat terpisah dengan ketiga trap yang lainnya. Untuk trap yang paling atas, tingginya 9 centimeter, sedangkan ketiga trap terlihat sama jaraknya antara satu dengan yang lain.

Bagian atas benda tersebut berbentuk bujursangkar berukuran 22 centimeter disetiap sisinya, dan tinggi 38 centimeter. Bagian bawah berukuran 31 centimeter disetiap sisinya dan tinggi 82 centimeter. 

Belum diketahui secara pasti, berapa ketinggian benda itu yang sebenarnya, karena dasarnya tidak terlihat, disebabkan tertutup tanah. Benda ini sangat solid menancap ditanah, kemungkinan didalam tanah masih ada bagian yang saat ini masih terpendam. 

Sementara itu, Cak Khoirul memastikan, bahwa warga sekitar melindungi benda kuno itu dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab, walaupun kondisi benda tersebut terlihat sangat memprihatinkan, karena tidak adanya ruang khusus. Warga setempat akan menindak tegas, barangsiapa yang merusak benda peninggalan leluhur tersebut.

“Jam matahari ini kondisinya seperti ini, memprihatinkan, tidak ada atapnya, tidak ada pembatasnya, kalau hujan kehujanan, lama-lama banyak yang keropos. Warga disini melindungi jam matahari dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Kalau ada yang merusaknya, warga disini akan menindak tegas,”ungkapnya.

Ia juga berharap, ada tindakan khusus dari siapa saja yang peduli akan benda-benda peninggalan leluhur, termasuk jam matahari tersebut. Tindakan khusus itu bisa berupa pembuatan ruang khusus, entah pembuatan atap atau pembatas.

Hingga saat ini, belum ada bukti otentik maupun literasi yang mengarah pada sejarah keberadaan benda kuno yang diyakini sebagian warga setempat adalah jam matahari purbakala.