Detak-Palembang.com PALEMBANG – Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Letjend TNI Doni Monardo menggelar Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Wilayah Provinsi Sumsel.

Rakor yang berlangsung di Griya Agung, Selasa (24/9) dihadiri juga Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Provinsi Sumsel, Bupati/Walikota yang berdampak Kebakaran Hutan dan Lahan beserta Kodim dan Kapolres serta Para Pejabat di Lingkungan Pemprov Sumsel.

Dalam paparannya, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan bahwa di tahun pertama menjabat sebagai Gubernur dirinya sudah menginventarisir pentingnya pencegahan dan pemadaman. 

“Kami berharap kehadiran Kepala BNPB RI dapat memberikan langkah strategis sehingga kejadian ini dapat berkurang bahkan dapat mengindari dari Karhutla,” katanya.

Begitu juga diakuinya untuk penegakan hukum sudah luar biasa dilakukan oleh Kapolda Sumsel, Kajati Sumsel dan Pengadilan Tinggi, begitu juga  Pangdam II Sriwijaya yang telah bekerja keras selama di lapangan. Oleh karena itu dia mengucapkan terima kasih atas kebersamaan ini. 

Disamping itu, dirinya bersama unsur FKPD Provinsi Sumsel sudah mempunyai ide dalam menyikapi Karhutla khususnya bagi daerah yang rawan kebakaran.

“Kami punya ide, bahwa kedepan kepada daerah-daerah yang berulang (terjadi Karhutla) akan kita adakan evaluasi secara khusus terhadap RT/RW tentang kegunana lahan- lahan yang selalu berulang terbakar , baik itu RT/RW tingkat kabupaten/kota bahkan tingkat Provinsi. Dan hal ini akan dibicarakan dengan DPRD agar langkah ini dapat menjai langkah yang sangat efektif setalah kita melakukan upaya -upaya lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Letjend TNI Doni Monardo mengatakan bahwa upaya pencegahan akan lebih baik dari pada pemadaman. 

“Alhamdullilah kerjasama ini sangat baik hampir seluruh wilayah yang tebakar mulai tiga hari terakhir turun hujan. Ini juga berkat satgas dan doa yang dikendalikan oleh Gubernur. Jadi kita sudah bekerja dan berusaha. Namun upaya yang kita lakukan belum ada ridho dari Allah,” katanya.

Tentu, dia menilai dalam mengatasi karhutla ini terlihat sudah sungguh luar biasa. Bahkan dalam waktu dua bulan ini sudah puluhan ribu tenaga dari berbagai intansi baik dari upaya, pencegahan dan pemadaman.

“Jadi kita harus tau apa itu gambut? Gambut itu adalah fosil batubara muda. Kalau bicara fosil bahwa batu bara ini adalah bahan bakar , dan gambut harus basah, berair dan rawah. Sehingga gambut tidak boleh berdiri sendiri. Membiarkan gambut kering bearti menganiaya,” katanya.

“Ketika gambut ini kering dan terbakar maka kita akan kewalahan. Dan hari ini kita bersyukur bahwa selain di Provinsi Sumsel dan daerah lainnya telah diturunkannya hujan,” ungkapnya.

Di kesempatan ini dirinya mengharapkan dan mengajak Kepala Daerah baik Bupati/Walikota untuk bisa menyusun konsep yang terintegrasi termasuk juga bagaimana kerjasama dengan Pemerintah dan Anggota Dewan agar ada dana cadangan untuk kebencanaan. “Tahun depan kita harapkan di Sumsel tidak ada lagi karhutla . Maka hal tersebut harus didukung dengan bersinergi semua,” tutupnya.

Sebelumnya, Komandan Korem (Danrem) 044 Garuda Dempo (Gapo) Kol Arhanud Sonny Septiono memaparkan di Provinsi Sumsel luas lahan gambut terbesar nomor 2 dari pulau Riau. Penyebab karhutla 1% Alam dan 99 % akibat manusia. Dalam mendukung pengendalian karhutla Provinsi Sumsel telah menurunkan 1.612 tim satgas.

“Prakiraan musim kemarau di Sumsel diprediksi tahun 2019 ini akan lebih kering dari tahun 2018 dan mendekati pada tahun 2015. Alhamdulilah terlihat Titik hotspot sudah menurun hal ini juga diakibatkan turunya hujan,” katanya.