Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Vebri Al-Lintani menanggapi pernyataan pernyataan Budayawan Betawi Ridwan Saidi yang mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah palsu atau fiktif, hanyalah sekelompok bajak laut, sebagai pernyataan yang keliru.

Vebri  mengatakan, pernyataan itu hanyalah tafsiran Ridwan Saidi yang hanya membaca beberapa referensi yang menganggap Sriwijaya sebagai bajak laut. Menurutnya Ridwan Saidi keliru yang mengatakan tidak ada bukti Sriwijaya sebagai kerajaan. 

“Banyak prasasti menunjukkan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan, misalnya prasasti Kedukan Bukit, yang secara jelas menyebutkan kata Sriwijaya. Selanjutnya ada prasasti Talang Tuo, rajanya sama dengan prasasti Kedukan Bukit yakni Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang membangun taman Sri Kesetra,” urai Vebri di Kantor Vamat Ilir Timur I Palembang, Senin (26/08).

Vebri menambahkan, bukti lain adalah prasasti Telaga Batu yang merupakan persumpahan raja kepada pejabat-pejabat kerajaan pada saat itu. Prasasti itu ditemukan di Palembang. Ia mengatakan, kalau itu bajak laut tidak mungkin akan meninggalkan prasasti, bajak laut tidak pernah meninggalkan prasasti. 

“Ridwan Saidi mengatakan I Tsing ditugasi kaisar pergi berbulan-bulan tidak menemukan apa-apa  tentang Sriwijaya. Namun, dalam catatannya I Tsing sendiri, bersama-sama dengan para Biksu Budha belajar di Sriwijaya dan itu banyak sekali jumlahnya, menurut penafsiran orang tempatnya di Bukit Siguntang Palembang,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, sampai saat ini banyak penemuan penemuan berkaitan dengan Sriwijaya. Vebri berpendapat jangan-jangan pernyataan Ridwan Saidi yang fiktif, karena dia belum detail membaca tentang Sriwijaya sehingga pernyataannya keliru.

“Kita tidak perlu mengcounter pernyataan Ridwan Saidi nanti dia besar kepala. Lebih baik kita perbanyak seminar-seminar memperkuat bukti mengenai Sriwijaya disini, daripada mengcounter pernyataannya. Sebagai sebuah tafsiran itu sah-sah saja, tetapi itu di counter oleh banyak Arkeolog, Budayawan dan para Sejarahwan. Lebih baik Ridwan membuat tesisnya dalam sebuah artikel dan kita akan bahas dalam sebuah seminar,” tutupnya.