Detak-Palembang.com PALEMBANG – Suhartini (47) Ibu FO alias Fera Oktaria korban pembunuhan mutilasi terdakwa Prada DP tidak terima tuntutan oleh Oditur Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (22/8/2019).

“Kami minta hukum mati itu baru pas. Anak saya hilang, saya tidak puas dengan hukuman ini,”kata Suhartini diluar ruang sidang saat selesai putusan terdakwa Prada di sampaikan

Dia kesal karena tuntutan begitu tidak sesuai dengan harapannya. Baginya kehilangan nyawa harus juga dibalas dengan nyawa baru disebut sebuah keadilan.

Dalam persidangan pun, menurut Suhartini Prada DP banyak menyebutkan kebohongan, salah satunya adalah tentang kondisi Fera yang dalam keadaan hamil. Wajar saat sidang berlangsung sebanyak lima kali sebelumnya Suhartini selalu hadir dan mendengarkan keterangan satu persatu saksi.

“Dia bohong terus dalam sidang, dia itu nangis puas sudah membunuh anak saya. Bukan nangis menyesal,”ujarnya.

Kericuhan di luar sidang karena dampak keputusan oditur yang dinilai tidak adil juga diucapkan keluarga lainnya. Meskipun kericuhan hanya ucapan ucapan pihak keluarga korban tanpa adanya aksi keributan dalam bentuk fisik tentunya membuat suasana selesai sidang di luar sedikit panas.

Salah satunya bibi korban Rusnah (45)  meminta kepada hakim ketua untuk memberikan hukuman maksimal kepada Prada DP karena telah menghilangkan nyawa keponakannya secara sadis. 

“Keponakan saya dibunuh, dicincang, harus diberikan hukumaan maksimal, jangan seperti ini,”ucapnya sambil menangis.

Oditur menuntut Prada DP dengan hukuman penjara seumur hidup lantaran ia telah terbukti melakukan pembunuhan serta mutilasi terhadap pacarnya sendiri Fera Oktaria (21). 

Dalam pembacaan tuntutan tersebut, Oditur CHK Mayor D Butar Butar menyatakan jika Prada DP terbukti melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang telah tega menhilangkan nyawa Fera.

“Kami menilai unsur kesengajaan terpenuhi berdasarkan Pasal 340 KUHP. Kami mohon terdakwa dikenakan penjara seumur hidup dan dipecat dari kesatuan,”kata Oditur dalam sidang di Pengadilan Militer I-04 Palembang,Kamis (22/8/2019). (molem)